Posts Tagged With: konferensi asia afrika

Linimassa 2, Cerita Luar Biasa Persembahan Bangsa


Oleh: Ricky Mardiansyah

Suasana menonton film Linimassa 2. (Foto: Dok. MKAA)

Suasana menonton film Linimassa 2. (Foto: Dok. MKAA)

Film adalah media yang ampuh. Perannya tidak hanya sebagai hiburan semata. Lebih dari itu, film bisa menjadi alat propaganda politik. Seperti pada masa Perang Dingin antara Blok Barat dan Blok Timur. Kedua blok saling menyerang menggunakan media film.

Film juga berfungsi sebagai alat penyebaran budaya dan pengaruh dari negara adikuasa seperti sekarang ini. Jika diproduksi oleh pihak-pihak yang mempunyai kepedulian, film juga dapat menjadi alat edukasi dan penyebar energi-energi positif untuk masyarakat luas.

Sudah sejak lama saya suka menonton film dari berbagai genre. Namun untuk genre film dokumenter, jumlah yang saya tonton masih bisa dihitung dengan jari dari satu tangan.

Salah satunya adalah Linimassa 2. Sebuah film dokumenter yang diproduksi secara crowd funding atau patungan. Dananya sendiri berasal dari berbagai kalangan, baik perseorangan maupun institusi. Meskipun bertajuk patungan, tetapi dana yang terkumpul mencapai 167 juta Rupiah.

Keunikan lainnya, film garapan sutradara Dandy Laksono ini diputar serentak di 50 titik berbeda di seluruh Indonesia pada 3 Nopember 2012 lalu. Termasuk salah satunya di Museum Konferensi Asia-Afrika Bandung. Saya sendiri, dipercaya sebagai pembahas film ini dalam sesi diskusi.

Linimassa 2 dibuka dengan cuplikan berita konflik Ambon 11 September 2012 lalu. Cuplikan ini berasal dari berbagai media massa nasional, baik online maupun televisi. Cuplikan ini ternyata mampu menggugah rasa penasaran saya. “Apa maksud di balik cuplikan itu?” pikir saya waktu itu.

Jawabannya pun cukup mengejutkan. Cuplikan-cuplikan berita tersebut memperlihatkan media massa mainstream yang menyampaikan informasi yang belum tentu benar terjadi di lapangan. Saya suka dengan ungkapan yang disampaikan film ini. “Musuh terbesar media adalah dirinya sendiri. Musuh yang mestinya diajak berdamai. Berdamai dengan rating dan iklan,” gugat film ini.

Contohnya saja mengenai pemberitaan konflik Ambon. Media massa mainstream saat itu menyampaikan informasi yang tidak sesuai keadaan sebenarnya di lapangan. Alih-alih menenangkan, justru pemberitaannya malah memperpanas keadaan.

Untungnya ada orang-orang yang peduli dan aktif menggunakan teknologi sosial media untuk menyebarkan informasi yang benar. Almas contohnya. Pemuda Ambon ini menggunakan Twitter untuk memverifikasi keadaan yang sebenarnya terjadi di lokasi terjadinya konflik. Tidak hanya Almas. Banyak komunitas Maluku yang juga berkomitmen untuk menciptakan perdamaian melalui penyebaran informasi yang benar dan berpihak pada perdamaian. Bagaimana pun, kita butuh informasi positif yang mampu membuat pikiran kita menjadi positif, sehingga kita mampu melakukan hal-hal positif dalam kehidupan ini.

Belum beranjak 10 menit pemutaran, film Linimassa 2 ini sudah membuat saya terkagum-kagum, khususnya dengan perjuangan orang-orang seperti mereka. Kekaguman ini membuat saya memimpikan media massa di Indonesia akan didominasi oleh peace journalism suatu saat nanti.

Linimassa 2. (Foto: linimassa.org)

Linimassa 2. (Foto: linimassa.org)

Linimassa 2 sendiri menurut saya merupakan sebuah film yang sarat inspirasi. Di dalamnya, untaian inspirasi ini dirajut melalui perjalanan seorang jurnalis radio bernama Manda. Ia berkeliling ke berbagai pelosok daerah untuk bertemu orang-orang biasa yang melakukan hal-hal luar biasa menggunakan bantuan teknologi informasi dan media sosial.

Setelah dari Maluku, perjalanan Manda berlanjut ke Yogyakarta. Di Kota Pelajar itu Manda mendatangi sebuah Kampung Cyber. Sekilas, kampung ini sama seperti kampung-kampung di Yogya pada umumnya. Yang membedakannya, 90 persen rumah warga di Kampung Cyber sudah memiliki akses internet. Bahkan, pos kampling kampung pun dilengkapi akses internet! Fakta yang membuat saya terkejut dan penonton tertawa.

Adapun teknologi yang digunakan kampung ini merupakan RT/RWnet Mandiri. Teknologi ini dirintis oleh Onno W Purbo, sang pakar Internet Indonesia. Warga cukup terbantu dengan kehadiran internet di kampungnya. Misalnya saja anak-anak. Umumnya mereka menggunakan internet sebagai alat bantu belajar dan hiburan.

Salah satu pelajaran penting dari film ini, orang tua harus menemani anak-anaknya ketika mengakses internet. Tujuannya, agar anak-anak tidak terpengaruh dampak buruk dari internet. Hal ini pula lah yang berlaku di Kampung Cyber. Orang tua harus menemani anak-anaknya selama berselancar di internet.

Internet juga digunakan sebagai media berniaga. Seperti yang dicontohkan Lek Iwon. Dia menggunakan Facebook dan blog sebagai media promosi jualan batiknya. Batik Lek Iwon pun terjual hingga ke mancanegara. Selain tujuan komersil, Lek Iwok juga bertekad melestarikan batik melalui internet. Mungkin, atas kontribusi kecil Lek Iwok juga lah, pengakuan batik sebagai warisan dunia oleh UNESCO, semakin terpatri di masyarakat internasional.

Film Linimassa 2 juga menunjukan kecanggihan internet sebagai sahabat untuk melestarikan bumi. Inisiatif ini salah satunya hadir dari pedalaman Jawa Barat. Tepatnya di Tasikmalaya, sebuah radio komunitas bernama Ruyuk FM menggunakan internet sebagai media penyadaran penghijauan. Mereka menggunakan situs web dan perangkat lunak berbasis open source, perangkat lunak yang gratis dan kebal dari virus.

Selain menggunakan internet sebagai sarana penyadaran penghijauan, Ruyuk FM juga mengunggah informasi seputar kegiatan warga desanya. Bahkan, program pemerintah dan laporan desa pun masuk dalam situs mereka yang beralamat di mandalamekar.or.id. Adapun kontributornya adalah warga kampunya sendiri.

Ada satu hal unik dari masyarakat Tasikmalaya ini ketika mengakses internet. Mereka harus berdiam diri di tengah sawah hanya untuk mengunggah kontennya ke internet. Selidik punya selidik, di tengah sawah inilah mereka bisa mendapatkan akses internet yang baik dan stabil. Potret inilah yang membuat kita seharusnya bersyukur atas akses internet di perkotaan yang relatif jauh lebih baik, lancar, dan stabil. Empat jempol untuk Ruyuk FM.

Linimassa 2 tidak hanya menampilkan maskulinitas semata. Film ini juga menyorot aksi srikandi-srikandi Indonesia. Mereka menjadikan internet dan sosial media sebagai alat perjuangan untuk melawan stigma, diskriminasi, dan ketidaktahuan masyarakat. Beberapa srikandi ini, antara lain Ayu Oktariani dari komunitas ODHA Berhak Sehat, Angkie Yudistia dari komunitas disabilitas, dan komunitas Emak-Emak Blogger.

Ayu sendiri menggunakan internet sebagai sarana untuk mensosialisasikan Orang Dengan HIV dan AIDS (ODHA) kepada masyarakat. Usahanya ini mampu menyadarkan masyarakat terkait ODHA. Contohnya saja, masyarakat menjadi tahu bahwa wanita maupun pria dengan HIV/AIDS masih bisa menikah dan mempunyai anak seperti pasangan pada umumnya. Pengetahuan ini membangun kepercayaan kepada ODHA dan mengurangi diskriminatif kepadanya.

Perjuangan srikandi lainnya hadir dari kalangan disabilitas, Angkie Yudistia. Dia menyadari bahwa diskriminasi terhadap penyandang disabilitas selalu ada, bahkan berlipat ganda. Namun, dia tidak ingin dikasihani. Untuk itulah, Angkie berusaha melawan diskriminasi melalui sosial media. Dia banyak mensosialisasikan hak-hak penyandang disabilitas.

Kita, sebagai manusia yang diciptakan tidak kurang suatu apapun oleh Tuhan, seharusnya bersyukur dan malu. Apalagi jika kita mendiskriminasi sahabat kita yang merupakan penyandang disabilitas. Sahabat disabailitas hanya ingin diperlakukan dan mendapatkan kesempatan yang sama seperti orang lain.

Film Linimassa 2 ini juga membuat saya kembali tertegun ketika srikandi lainnya hadir. Seorang wanita tua berusia 72 tahun bernama Yati Rachmat. Meski usahanya termasuk senja, tetapi dia tetap produktif dengan berbisnis online melalui blog. Beliau merupakan anggota dari Emak-Emak Blogger. Alasannya pun sederhana: beliau takut cepat pikun. Melalui sosial media lah Yati mendapatkan jawabannya. Sehingga dia terus berupaya untuk tetap berpikir dan berbuat di usianya yang sudah tidak muda lagi.

Apakah saya bisa tetap produktif seperti beliau? Kita semua patut mencontoh beliau yang mempunyai keinginan dan semangat kuat untuk produktif dan belajar sesuatu yang baru. Orang awam yang belum tahu banyak tentang internet, bisa belajar bahwa internet dapat menjadi peluang bisnis yang baik.

Perjalanan Manda kembali berlanjut ke pulau Lombok. Di sana ia bertemu komunitas radio Primadona FM. Radio ini diciptakan masyarakat Kampung Bajo dengan segala keterbatasannya. Para pendengar radio dapat menyampaikan keluh kesahnya mengenai pelayanan publik dan keadaan sekitarnya.

Film Linimassa 2 ini juga membuktikan bahwa kondisi pendidikan di daerah terpencil masih sangat memprihatinkan. Hal ini tampak dari kondisi sekolah Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) di Pawang Tumpas Barat. Sarana sekolah hanya beratapkan terpal dan bertiang bambu serta dekat kandang sapi. Meskipun begitu, beruntung kita masih memiliki orang-orang hebat yang mau bekerja dengan ikhlas tanpa bayaran untuk mengajar di daerah terpencil. Seperti ibu guru Sioni.

Kemendikbud dan para wakil rakyat yang duduk di gedung megah di ibukota sana seharusnya melihat film ini. Tujuannya agar mereka sadar dan malu, itu pun apabila mereka masih punya rasa malu.

Ibu guru Sioni sendiri hanya bisa mengeluh ke Primadona FM. Belum jelas kelanjutan ceritanya di Lombok sana. Namun, saya hanya berharap semoga PAUD-nya mendapatkan bantuan yang semestinya.

Lalu hadir juga sosok Kitanep, seorang penjaga hutan Taman Nasional Rinjani. Dia bertugas menjaga pasokan air bagi sebuah dusun di sana. Untuk kerja kerasnya selama sebulan, Kitanep hanya digaji 315 ribu Rupiah. Ketika pipa bocor dan warga menderita kekurangan air, Kitanep juga mengadu ke Primadona FM, sehingga pemerintah turun tangan untuk memberikan bantuan.

Berkat bantuan internet, Komunitas Primadona FM mengunggah foto-foto pipa bocor diambil Kitanep. Hal ini menghasilkan bantuan dari berbagai pihak. Gaji yang kecil tak menghalangi Kitanep untuk bekerja dengan baik dan ikhlas. Hal yang patut dijadikan contoh oleh kita semua, khususnya Anggota Dewan yang terhormat.

Banyak pengetahuan yang kita dapatkan dengan menonton film Linimassa 2 ini. Kita jadi tahu bahwa ada banyak orang biasa di berbagai daerah di Indonesia yang melakukan hal-hal luar biasa berkat penggunaan bijak teknologi dan internet. Meskipun hidup dengan segala kekurangannya, tetapi mereka tetap mampu berguna bagi banyak orang.

Selain itu, kita juga tahu data statistik pengguna internet, sosial media, dan telepon selular di Indonesia yang luar biasa banyaknya. Ditambah kita harus pandai-pandai menyerap informasi, khususnya yang dikeluarkan oleh media mainstream. Satu hal terpenting: jangan mudah terprovokasi. Film Linimassa 2 ditutup dengan lantunan indah nan merdu lagu berjudul Maluku Tanah Pusaka yang dinyanyikan oleh Glenn Fredly.

Film persembahan ICT Watch ini merupakan sebuah film dokumenter yang sangat bagus. Ceritanya begitu menarik dan berbobot disertai beberapa gambaran alam Indonesia yang indah. Film ini bagaikan gambaran linimasa bangsa Indonesia yang menampilkan cerita-cerita luar biasa. Film ini seharusnya diputar juga di semua sekolah-sekolah setingkat SMP dan SMA di seluruh Indonesia. Harapannya, agar para siswa tertular energi positif dari film ini.

Linimassa 2 juga menggugah kesadaran kita semua, khususnya saya sebagai orang yang tinggal di perkotaan dengan segala fasilitas yang ada. Ayo kita belajar dari sosok-sosok hebat di film ini dan gunakan teknologi serta internet sebaik-baiknya agar berguna bagi orang banyak demi kemajuan Indonesia tercinta!*** (YUPS)

Categories: Kegiatan, Resensi | Tag: , , , , | Tinggalkan komentar

Seminar International Day of Persons with Disabilities: Kita Ada, Kita Berbagi


International Day of Persons with Disabilities

International Day of Persons with Disabilities

Dalam rangka International Day of Persons With Disabilities, Museum Konferensi Asia-Afrika (MKAA) Bandung bekerjasama dengan Mata Hati Indonesia akan menyelenggarakan Seminar Kita Ada, Kita Berbagi. Kegiatan ini akan diselenggarakan pada Senin, 3 Desember 2012 jam 16 – 18 WIB di Ruang Pamer Tetap Museum Konferensi Asia-Afrika, Jalan Asia-Afrika no. 65 Bandung.

Hadir sebagai pembicara Desmond Satria Andrian, staf Museum Konferesi Asia-Afrika; Ipan Hidayatulloh, ketua Mata Hati Indonesia; dan Ahmad Nugraha, Ketua Komisi D DPRD Kota Bandung. Seminar ini juga akan diisi dengan penampilan seni Bengkel Kreasi GaPat Bandung, sebuah kelompok teater yang digawangi oleh penyandang disabilitas di Bandung. Selain itu juga, akan ada peluncuran situs web tbc.

Informasi lebih lanjut, hubungi Sahabat Museum KAA melalui Gilang A Jabbar di 0857 2220 3355, 022 423 3564, atau melalui sahabatmkaa@yahoo.com. Bisa juga melalui Twitter di @sahabat_difabel dan FanPage Facebook Sahabat Disabilitas.

Kegiatan ini didukung juga oleh Pemerintah Provinsi Jawa Barat, Sahabat Museum KAA, Komunitas Film Layar Kita, Asian-African Reading Corner (AARC), Pusat Pemberdayaan Open Source Software (POSS) UPI, Kabuyutan Braga, dan Bengkel Kreasi GaPat Bandung.

Categories: Agenda | Tag: , | Tinggalkan komentar

Jejak Inspirasi Semangat Bandung Ali Sastroamidjojo


Buku "Tonggak-Tonggak di Perjalananku" edisi awal. Museum Konferensi Asia-Afrika (MKAA) Bandung pada 2012 ini menerbitkan kembali buku ini. (Foto: Blogspot.com)

Buku “Tonggak-Tonggak di Perjalananku” edisi awal. Museum Konferensi Asia-Afrika (MKAA) Bandung pada 2012 ini menerbitkan kembali buku ini. (Foto: Blogspot.com)

Sinar matahari sore menyelinap genit di antara awan mendung yang bergelayutan di atas Bandung. Namun, air hujan belum juga mau beranjak turun. Bukan hanya sore ini saja. Sudah 4 pekan sore, air belum juga berkenan membasahi bumi.

Seperti sore-sore di musim kemarau yang kering pada umumnya, sore ini pun Kota Bandung terbuat dari antrian kendaraan yang mengular di setiap sudut jalanan. Memadati udara kota dataran tinggi itu dengan debu polusi dari knalpot mobil dan motor.

Di sini, di sudut Gedung Merdeka, sebuah ruangan berjuluk Audio-Visual dan berukuran 3/4 lapangan bulu tangkis, padat dengan manusia. Ada sekitar 60 kursi yang disusun berbentuk huruf “U” berlapis tiga. Perlahan tapi pasti, setiap kursi mulai terisi manusia.

Semakin petang, jumlah manusia semakin bertambah. Saking padatnya, beberapa orang memilih berlalu lalang di lorong depan ruangan. Mengusir suntuk mungkin. Namun, sebagian besar orang-orang di dalam ruangan memilih untuk bertahan.

Setiap kepala tertunduk khusyu. Di tangan sebagian mereka, terpatri sebuah buku setebal 666 halaman. Semuanya sepakat membuka halaman 640. Salah seorang di antaranya, membaca kata demi kata dengan lantang. Tak selalu lantang memang, tetapi dia berusaha agar suaranya terdengar hingga ke seantero ruangan. Sedangkan hadirin lainnya menyimak dengan khusyu.

Kekhusyuan ini bukanlah baru pertama kali dilakukan oleh sebagian dari mereka. Sejak Februari lalu, sekelompok pemuda mulai menapaki huruf demi huruf biografi Ali Sastroamidjojo ini. Mereka menamai dirinya Asia-Africa Reading Club (AARC). Sedangkan buku yang tengah mereka baca berjudul Tonggak-Tonggak di Perjalananku yang ditulis sendiri oleh Ali Sastroamidjojo.

Setiap Rabu, sekitar 10 hingga 15 orang rutin berkumpul dan membaca bersama-sama. Mereka menyebutnya sebagai “tadarusan”. Aktivitas ini memang lumrah dilakukan untuk membaca Alquran secara berkelompok. Namun, masih jarang sekelompok orang mempraktikannya untuk membaca buku beraksara latin dengan Bahasa Indonesia.

Halaman demi halaman mereka santap setiap pekannya. Tak cukup sampai di situ, mereka pun menghadirkan pengkaji sejarah dan budaya ke dalam aktivitas pekanan AARC. Beberapa yang pernah menorehkan namanya dalam aktivitas tadarusan, antara lain: Acep Iwan Saidi, Alfathri Adlin, Dina Y Sulaeman, dan Hawe Setiawan. Mereka menorehkan kesan mendalam di kenangan dan pikiran para punggawa AARC.

***

Plh Museum Konferensi Asia-Afrika (MKAA) Elly Nugraha (tengah) menerima tanda terima kasih dari keluarga besar Ali Sastroamidjojo yang diwakili oleh Tarida Sastroamidjojo (kiri). (Foto: Yudha PS)

Plh Museum Konferensi Asia-Afrika (MKAA) Elly Nugraha (tengah) menerima tanda terima kasih dari keluarga besar Ali Sastroamidjojo yang diwakili oleh Tarida Sastroamidjojo (kiri). (Foto: Yudha PS)

Adzan Maghrib sayup-sayup berkumandang di masjid-masjid sekitar jalan Braga dan jalan Asia-Afrika Bandung. Aktivitas hiruk-pikuk kehidupan Bandung lambat-laun mereda, seiring petang yang mulai berganti malam. Namun tidak di Ruang Audio-Visual Gedung Merdeka.

Di ruangan yang semakin sesak, keriuhan hadirin semakin bergema. Kini, lembaran yang terbuka di buku biografi Ali Sastroamidjojo menunjukan halaman 656. Tinggal 3 paragraf lagi, dan usailah sudah perjuangan 8 bulan melahap sebuah buku secara berjamaah. Sedangkan 10 halaman lagi sisanya, hanyalah daftar indeks dan catatan pelengkap buku lainnya. Tidak masuk hitungan untuk dibaca juga.

Uniknya, dia yang sedang membaca bentuk fisiknya jelas sangat berbeda dengan hadirin kebanyakan. Hitam dan berambut pendek-keriting. Bahasa Indonesianya pun sangat terbata-bata. Wajar saja, pembacanya adalah seorang Uganda yang mulai bisa Bahasa Indonesia, meskipun masih sedikit. Meskipun begitu, keadaan tersebut tidak menyurutkannya untuk menyelesaikan satu paragraf teks dari buku Tonggak-Tonggak di Perjalananku.

Musa Muwaga namanya. Modal membaca napak tilas Ali Sastroamidjojo hanya hasil dari interaksinya selama berkuliah di Universitas Padjadjaran Bandung. Sisanya, dia percayakan sepenuhnya pada teks-teks latin berbahasa Indonesia, yang berusaha ia baca. Warga Asia-Afrika lainnya yang kebetulan hadir di acara ini adalah Yagura Roichi, seorang warga Jepang yang tengah melakukan penelitian di Museum Konferensi Asia-Afrika. Dia pun turut membaca bait-bait kenangan Ali Sastroamidjojo dengan sangat terbata-bata. Tekad keduanya untuk membaca pun mampu menuai pujian dan tepuk tangan hadirin lainnya.

***

Tepat jam 18:05 WIB, kalimat terakhir dalam paragraf terakhir buku biografi Ali Sastroamidjojo pun usai dikumandangkan. Ritual tadarusan ini ditutup oleh pemaparan riwayat singkat Ali Sastroamidjojo yang dibacakan oleh kang Desmond Satria Andrian, sosok tinggi-besar yang sampai saat ini selalu menginsipirasi Sahabat MKAA untuk berkegiatan di Gedung Merdeka.

Ali Sastroamidjojo sendiri merupakan salah satu Bapak Bangsa Indonesia. Kiprahnya untuk memperjuangkan dan mempertahankan kemerdekaan Indonesia sangat besar. Di masa-masa awal pemerintahan Indonesia berdiri, beliau ditunjuk sebagai menteri pendidikan dan kebudayaan. Dia juga duta besar pertama Indonesia untuk Amerika yang mengawali membuka perwakilan Indonesia di negeri Paman Sam.

Salah satu puncak karir Ali Sastroamidjojo yang paling diingat oleh banyak orang adalah jabatannya sebagai Perdana Menteri Republik Indonesia. Di titik ini, “Ali merupakan sosok pejuang diplomasi, dengan jiwa internasionalisasi yang konsisten, khususnya konsisten terhadap semangat Bandung,” nilai Elly Nugraha, plh Kepala Museum Konferensi Asia-Afrika Bandung, dalam sambutan pada syukuran Khataman Tadarusan buku Tonggak-Tonggak di Perjalananku.

Elly berharap, melalui bukunya ini, sosok Ali bisa masuk ke relung-relung pemuda yang merupakan generasi penerus Bangsa.

Plh Museum Konferensi Asia-Afrika (MKAA) Elly Nugraha tengah memotong tumpeng tanda berakhirnya tadarusan buku biografi Ali Sastroamidjojo. (Foto: Yudha PS)

Plh Museum Konferensi Asia-Afrika (MKAA) Elly Nugraha tengah memotong tumpeng tanda berakhirnya tadarusan buku biografi Ali Sastroamidjojo. (Foto: Yudha PS)

Dalam kesempatan ini, hadir juga Tarida Sastroamidjojo, cucu dari Ali Sastroamidjojo yang hadir mewakili keluarga besar Ali Sastroamidjojo. Tarida menghaturkan penghargaan kepada pengelola MKAA. “Saya merasa haru dan bangga bahwa pihak Museum Konferensi Asia-Afrika Bandung memberikan perhatian pada karya beliau. Bahkan mencetak dan menerbitkannya, termasuk menyebarkan (buku Ali Sastroamidjojo) ke khalayak luas,” ungkapnya di depan hadirin dengan penuh haru. “Semoga isi pesan beliau bisa membuka cakrawala pengetahuan bagi generasi muda,” tutupnya.

***

Ali Sastroamidjojo adalah inspirasi. Itulah kesimpulan dari peserta Khataman Tadarusan Tonggak-Tonggak di Perjalananku. Seperti yang dikemukakan oleh Norma, anggota Asia-Africa Reading Club (AARC). Selama membaca buku biografi Ali Sastroamidjojo, ibu satu anak ini mengaku mendapatkan banyak ide untuk menggelorakan semangat “Bandung Ibu Kota Asia-Afrika”.

Contohnya saja, Norma terinspirasi untuk menggelar lomba baca dan malam keakraban pemuda Asia-Afrika. Meskipun banyak kendala, tetapi Norma yakin semangat Bandung bisa mendobrak segala keterbatasan yang ia dan teman-temannya miliki. “Seperti (pemerintah) Indonesia dengan keterbatasan ekonominya mampu mewujudkan KAA 1955,” tandasnya.

Semangat senada dirasakan oleh Aryo, anggota AARC. Gitaris serta desainer asal Bandung ini terinspirasi untuk menggaungkan Bandung Ibu Kota Asia-Afrika ke seantero Bandung. Untuk mengejawantahkan semangatnya ini, Aryo memulainya dengan merancang kaos dengan pesan “Bandung Ibu Kota Asia-Afrika”.

***

Karya terakhir Ali Sastroamidjojo ini mampu menghadirkan tokoh-tokoh sejarah dengan sangat manusiawi. Itulah penilaian Desmond, dalam pengantar Khataman Tadarusan buku Tonggak-Tonggak di Perjalananku. “Karena ditulis dalam bahasa tutur yang baik,” ungkapnya. Alumnus Sastra Perancis UNPAD ini juga mengungkapkan bahwa Ali merupakan sosok yang memiliki pandangan Indonesianisme dan Panasianisme yang kuat.

Peran Ali Sastroamidjojo dalam percaturan diplomasi Indonesia tampak sekali dalam drama Konferensi Asia-Afrika (KAA) 1955. Ali sebagai sutradara besar konferensi, berhasil meyakinkan 4 perdana menteri lainnya pada konferensi Kolombo untuk menyelenggarakan KAA 1955. “Tanpa Colombo Plan, tidak ada KAA,” tandas Desmond.

Kebesaran Ali semakin tampak ketika KAA 1955 terselenggara di Bandung. Kecanggihan diplomasinya mampu mengakomodir berbagai latar belakang ideologi untuk bersatu dalam forum internasional kulit berwarna pertama di dunia itu.

Hal ini salah satunya tampak pada hari kelima penyelenggaraan KAA 1955. Pada pertemuan politik yang dihadiri seluruh perdana menteri, Chou En Lai, Perdana Menteri China, berkonflik dengan John Kotawala, Perdana Menteri Chevlon. Hampir-hampir, KAA 1955 gagal. Namun, berkat campur tangan Ali, konflik tersebut mampu diredam dan KAA 1955 mampu menghasilkan Dasa Sila Bandung di malam penutupannya.

Sebagai penutup, Desmond menandaskan bahwa sisi internasionalisme Ali Sastroamidjojo tampak di halaman-halaman akhir biografinya. Ali masih sempat mendoakan Perserikatan Bangsa-Bangsa untuk lebih baik lagi. “Sesuatu (pemikiran) yang patut kita apresiasi tentunya,” tutup Desmond yang disambut tepuk-tangan dari hadirin.

Semoga, tepuk-tangan tanda terinspirasi untuk menggelorakan semangat Bandung, untuk sebuah Indonesia dan dunia yang lebih baik lagi.***

Categories: Kegiatan | Tag: , , , , , , , , , | Tinggalkan komentar

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.