Posts Tagged With: Arie Frederik Lasut

Sang Perintis, Kisah Pahlawan Dokumen Geologi Indonesia


Oleh: Ricky Mardiansyah

Suasana nonton bareng film Sang Perintis di MKAA Bandung. (Foto: Dok. MKAA Bandung)

Suasana nonton bareng film Sang Perintis di MKAA Bandung. (Foto: Dok. MKAA Bandung)

Pada 10 Nopember 2012 lalu, Museum Konferensi Asia Afrika (MKAA) Bandung bekerja sama dengan Museum Geologi, Layar Kita, Sahabat Museum Konperensi Asia Afrika (SMKAA), Pulasara Iket, dan Jatinangorku.com menggelar Nonton Bareng dan Diskusi Film “Sang Perintis : Pahlawan Geologi Indonesia’’. Film bergenre dokumenter ini mengisahkan dua pahlawan geologi Indonesia, yakni Arie Frederik Lasut dan Soenoe Soemosoesastro.

Penonton mulai berdatangan jam 18 WIB. Tanpa menunggu lama, seratus kursi yang disediakan panitia langsung terisi penuh. Padahal, Bandung Sabtu malam tengah diguyur hujan deras. Namun, tidak menyurutkan semangat peserta untuk datang dan mengikuti diskusi. Hebatnya lagi, sebagian peserta baru pertama kali mengunjungi museum. Tampaknya publikasi yang dilakukan MKAA cukup berhasil.

Tepat jam 19 WIB, acara dibuka dengan penayangan video pidato Bung Tomo, pemimpin perjuangan arek-arek Surabaya melawan Inggris pada 10 Nopember 1945 silam. Dalam pidatonya, terasa sekali bahwa pidato Bung Tomo mampu menggelorakan semangat pejuang Indonesia di Surabaya. Karena semangat ini, Inggris gagal merebut Surabaya. Padahal, peralatan perang pejuang Indonesia lebih sederhana dibandingkan prajurit Inggris.

Satu hal yang menarik dari video ini, ternyata semangat Asia-Afrika sudah muncul kala itu. Buktinya, 300 tentara Inggris yang berasal dari Pakistan dan India membelot dari kesatuannya. Mereka lebih memilih untuk membantu perjuangan rakyat Indonesia.

Belum lepas keterpukauan hadirin dengan video Bung Tomo, panitia menyuguhkan film dokumenter bertajuk The Reflexion of The 1955 Asian-African Conference and Beyond. Sebelumnya, peserta diajak untuk mengheningkan cipta guna mendoakan para pahlawan bangsa yang telah gugur merebut dan mempertahankan kemerdekaan Indonesia.

Tampaknya, setiap acara MKAA tak lengkap tanpa lagu Emansipasi Asia-Afrika. Lagu tema (theme song) “Bandung, Ibu Kota Asia-Afrika” ini sedikit menghangatkan suasana Bandung yang diguyur hujan tanpa henti. Satu hal yang unik, lagu yang dilantunkan oleh Ras Muhammad ini bernuansa Reage, yang identik dengan hal informal dan muda. Tidak biasa memang untuk museum yang identik dengan hal formal dan klasik. Tetapi inilah yang membuat MKAA selalu ramai dengan kaum muda.

Kumandang lagu Emansipasi Asia-Afrika membuka pemutaran film dokumenter “Sang Perintis”. Film berdurasi 15 menit ini mengisahkan perjuangan 2 Geologis Indonesia pada era kemerdekaan Indonesia, yaitu: Arie Frederik Lasut dan Soenoe Soemosoesastro. Mereka adalah dua orang Geolog pertama Indonesia.

Cerita berawal dari kekurangan tenaga menengah di bidang geologi dan pertambangan di masa pemerintah kolonial Belanda. Para insinyur Belanda saat itu membutuhkan tenaga terlatih yang dapat membantunya di lapangan. Oleh karena itu, pemerintah Belanda membuka kursus untuk menjadi Asisten Geolog di Bandung. Dari keseluruhan peserta yang berwarga negara Belanda, hanya Arie dan Soenoe lah yang asli pribumi.

Di awal masa kemerdekaan, Arie dan Soenoe berjuang untuk menyelamatkan dokumen geologi dan tambang Indonesia. Mereka berusaha memindahkan dokumen-dokumen tersebut dari Bandung ke Tasikmalaya, lalu dibawa ke Magelang dan Yogyakarta. Kini dokumen-dokumen itu sudah kembali lagi ke Bandung. Arie sendiri gugur lantaran ditembak mati oleh tentara Belanda di dusun Pakem, Yogyakarta. Pada 20 Mei 1969, Arie Frederik Lasut dianugerahi gelar Pahlawan Kemerdekaan Nasional oleh Pemerintah Indonesia.

Ely Nugraha, plh MKAA Bandung (kanan) menyerahkan kenang-kenangan kepada keluarga Arie F Lasut usai pemutaran film dan diskusi. (Foto: Dok. MKAA Bandung)

Ely Nugraha, plh MKAA Bandung (kanan) menyerahkan kenang-kenangan kepada keluarga Arie F Lasut usai pemutaran film dan diskusi. (Foto: Dok. MKAA Bandung)

Tak hanya film, peserta juga disuguhi diskusi yang dimoderatori oleh Rany Dwi. Diskusi ini menghadirkan Tobing Jr. (Layar Kita), Julianty Martadinata (antropolog yang bekerja di Museum Geologi), dan Ir. Danny Z. Herman (Geologis). Menurut para Narasumber, dokumen Geologi yang diselamatkan oleh Arie dan Soenoe merupakan dokumen penting bagi Indonesia. Di dalamnya, terdapat data-data mengenai potensi yang terkandung di alam Indonesia. Penyelamatan dokumen tersebut dari Belanda membatasi pemerintah kolonial untuk mengeksplorasi sumber daya alam Indonesia. Apalagi, untuk kondisi saat itu, data-data geologi tersebut sangat langka dan didapatkan dengan cara yang sulit.

Film dokumenter Sang Perintis sendiri memakan waktu produksi selama satu tahun. Julianty mengaku kekurangan dokumentasi dan data-data sehingga menghambat pengerjaan film ini. Meskipun begitu, kerja keras pembuat film ini terbayar jua. Karena, film ini memiliki arti yang cukup besar bagi Indonesia. Seperti yang diutarakan oleh Tobing. Dia menilai bahwa film ini mengajarkan nilai dokumentasi bagi sebuah bangsa. Orang Indonesia sendiri lemah terhadap dokumentasi. Tak heran bila banyak dokumen-dokumen penting Bangsa Indonesia malah tersimpan di berbagai tempat dan museum di seluruh dunia.

Bagi Danny sendiri, film ini mengajak para Geologis Indonesia untuk menemukan sumber energi baru. Bagaimana pun, energi panas matahari, angin, dan panas bumi, belum dikembangkan secara optimal. Padahal Indonesia punya pontensi yang besar terkait energi ini.

Rangkaian acara diakhiri dengan tanya jawab dan makan malam bersama. Selain itu, acara ini juga menghadirkan foto-foto langka tentang Sanusi Hardjadinata. Sanusi sendiri adalah tokoh asal Jawa Barat yang pernah menjabat sebagai Gubernur Jawa Barat (1951 – 1957) dan Ketua Komite Lokal Konferensi Asia-Afrika 1955. Pameran foto ini sendiri berlangsung selama bulan Nopember 2012.

Satu lagi khazanah sisi pahlawan bangsa terungkap melalui acara ini. Film ini mengajarkan kita bahwa berjuang tidak harus melulu melalui pertempuran. Namun, penyelamatan dokumen sejarah dan data juga merupakan langkah perjuangan yang cukup penting artinya bagi sebuah bangsa. (YUPS)***

Categories: Kegiatan | Tag: , , , , , , , , , , | Tinggalkan komentar

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.