Author Archives: Yudha P Sunandar

About Yudha P Sunandar

Penikmat jurnalisme. Lahir, besar, dan tinggal di Bandung, Jawa Barat. Senang untuk menuliskan kisah-kisah inspiratif dan mengunjungi tempat-tempat yang mengagumkan.

Pindah Rumah ke Sahabatmkaa.com


Sejak 1 April 2013,
Sahabatmkaa.wordpress.com
pindah rumah ke Sahabatmkaa.com.

Bila Anda memiliki tautan tulisan terdahulu di situs ini, Anda masih bisa menemukannya di alamat baru.

Iklan
Categories: Uncategorized | 1 Komentar

Open Recruitment Redaksi Situs Sahabat MKAA


Sahabat Museum Konferensi Asia-Afrika membuka rekruitmen untuk menjadi anggota redaksi situs Sahabat MKAA. Adapun ketentuannya adalah sebagai berikut:

  1. Syarat
    • Memiliki ketertarikan terhadap media dan jurnalisme: menulis, fotografi, atau videografi
    • Memiliki semangat untuk belajar
    • Mampu bekerja dalam tim
    • Bersedia bekerja dengan deadline
    • Terbiasa menggunakan komputer dan internet
    • Berusia antara 17 hingga 25 tahun
    • Bersedia mengikuti rapat redaksi mingguan selama 6 bulan ke depan
    • Bersedia melakukan kegiatan peliputan terkait Museum Konperensi Asia Afrika, baik di Bandung maupun di luar kota
  2. Fasilitas
    • Kartu Tanda Pengenal Redaksi
    • Pelatihan keterampilan jurnalisme
    • Buku Jurnalisme Praktis
  3. Persyaratan Administrasi
    1. Curriculum Vitae
    2. Pas Foto Berwarna
  4. Seluruh persyaratan administrasi dikirimkan ke e-mail sahabat.mkaa@gmail.com dengan subjek: Rekruitment Redaksi Sahabat MKAA paling lambat 18 Februari 2013 jam 23:59 WIB.
Categories: Agenda | Tag: , | Tinggalkan komentar

Lomba Blog “Aku dan Sahabat Disabilitasku”


Dalam rangka International Day of Person with Disabilities, Museum Konferensi Asia-Afrika bekerja sama dengan Mata Hati Indonesia menyelenggarakan lomba menulis blog Hari Internasional Penyandang Disabilitas (HIPENDIS) 2012. Adapun tema perlombaan kali ini adalah “Aku dan Sahabat Disabilitasku“.

Periode Lomba

Lomba ini berlangsung pada 1 – 29 Desember 2012. Pemenang akan diumumkan melalui situs ini pada: 31 Desember 2012.

Syarat dan Ketentuan:

  • Lomba menulis ini terbuka untuk umum.
  • Peserta lomba adalah perseorangan.
  • Tulisan dipublikasikan dalam blog peserta.
  • Peserta dapat menggunakan layanan blog apapun, kecuali blog organisasi dan kelompok.
  • Peserta boleh mengirimkan lebih dari satu tulisan.
  • Peserta wajib mengirimkan biodatanya dengan format berikut: Nama, Alamat Rumah, No. Handphone, Email, Facebook, Twitter, Alamat Blog, dan URL Tulisan. Biodata dikirim melalui email ke sahabatmkaa@gmail.com dan sahabat.disabilitas@gmail.com dengan subject: Lomba Menulis Aku dan Sahabat Disabilitasku. Setiap email, memuat hanya 1 URL Tulisan, tidak lebih.
  • Peserta minimal telah memiliki 5 tulisan dalam blognya sebelum mendaftarkan diri pada lomba ini.
  • Peserta wajib memasang Banner Sahabat Difabel di halaman muka blognya. Untuk mengambil banner, klik tautan ini.
  • Peserta harus memasang tag/label SahabatDifabel di setiap tulisannya di blog.
  • Panjang tulisan MINIMAL 2.500 karakter.
  • Tulisan menggunakan Bahasa Indonesia.
  • Materi yang diikutsertakan adalah tulisan. Peserta boleh menambahkan gambar, suara, dan video pada tulisannya tersebut.
  • Peserta harus menyukai (like) halaman Facebook (FanPage) Sahabat Disabilitas dan mengikuti (follow) Twitter @Sahabat_Difabel.
  • Tulisan harus dibagi (share) di Twitter dan Facebook peserta masing-masing. Tulisan yang dibagi di Twitter harus menyebut (mention) @Sahabat_Difabel. Sedangkan tulisan yang dibagi di Facebook harus menandai (tag) halaman (FanPage) Sahabat Disabilitas.
  • Karya bukan hasil jiplakan. Peserta yang diketahui menjiplak, akan langsung masuk dalam Daftar Hitam (Black List) dan tidak diperkenankan mengikuti perlombaan.
  • Setiap tulisan yang diikutsertakan tunduk dalam lisensi karya cipta bersama CC BY-NC-SA 3.0.
  • Keputusan Dewan Juri bersifat mutlak dan tidak bisa diganggu gugat.

Dewan Juri:

  • Yudha P Sunandar (Blogger, Online Citizen Journalist, Pengkaji Citizen Journalism)
  • Ricky Mardiansyah (Blogger, Pemenang Kategori Khusus Indonesian Human Rights Blog Awards 2012)
  • Hendra “Veejay” Purnama (Penulis, Novelis, FilmMaker)

Kriteria Penjurian:

  • Orisinalitas gagasan
  • Kesesuaian dengan tema
  • Kejelasan penyampaian
  • Gaya Bahasa dan Penulisan
  • Inspiratif

Hadiah

  • Pemenang I: uang tunai 1 juta Rupiah
  • Pemenang II: uang tunai 500 ribu Rupiah
  • Pemenang III: uang tunai 250 ribu Rupiah

Kegiatan ini didukung oleh:

Sahabat Museum Konferensi Asia-Afrika (SMKAA), Komunitas Film Layar Kita, Asian-African Reading Club (AARC), Pusat Pemberdayaan Open Source Software (POSS) UPI, Kabuyutan Braga, Museum Braga, dan Bengkel Kreasi GaPat Bandung.

Categories: Agenda | 15 Komentar

Seminar International Day of Persons with Disabilities: Kita Ada, Kita Berbagi


International Day of Persons with Disabilities

International Day of Persons with Disabilities

Dalam rangka International Day of Persons With Disabilities, Museum Konferensi Asia-Afrika (MKAA) Bandung bekerjasama dengan Mata Hati Indonesia akan menyelenggarakan Seminar Kita Ada, Kita Berbagi. Kegiatan ini akan diselenggarakan pada Senin, 3 Desember 2012 jam 16 – 18 WIB di Ruang Pamer Tetap Museum Konferensi Asia-Afrika, Jalan Asia-Afrika no. 65 Bandung.

Hadir sebagai pembicara Desmond Satria Andrian, staf Museum Konferesi Asia-Afrika; Ipan Hidayatulloh, ketua Mata Hati Indonesia; dan Ahmad Nugraha, Ketua Komisi D DPRD Kota Bandung. Seminar ini juga akan diisi dengan penampilan seni Bengkel Kreasi GaPat Bandung, sebuah kelompok teater yang digawangi oleh penyandang disabilitas di Bandung. Selain itu juga, akan ada peluncuran situs web tbc.

Informasi lebih lanjut, hubungi Sahabat Museum KAA melalui Gilang A Jabbar di 0857 2220 3355, 022 423 3564, atau melalui sahabatmkaa@yahoo.com. Bisa juga melalui Twitter di @sahabat_difabel dan FanPage Facebook Sahabat Disabilitas.

Kegiatan ini didukung juga oleh Pemerintah Provinsi Jawa Barat, Sahabat Museum KAA, Komunitas Film Layar Kita, Asian-African Reading Corner (AARC), Pusat Pemberdayaan Open Source Software (POSS) UPI, Kabuyutan Braga, dan Bengkel Kreasi GaPat Bandung.

Categories: Agenda | Tag: , | Tinggalkan komentar

Zhou En Lai, Sebuah Kenangan KAA-1955


Jackson Leung bersama foto ketika dirinya ditugasi mengalungkan bunga kepada Zhou En Lai ( Foto: jabar.tribunnews.com)

Jackson Leung bersama foto ketika dirinya ditugasi mengalungkan bunga kepada Zhou En Lai ( Foto: jabar.tribunnews.com)

Pagi-pagi buta, Leung Sze Mau muda dijemput oleh sebuah mobil sedan besar dini hari. Hari itu, bukanlah hari biasa bagi Leung, dan juga warga Bandung. Karena, pelajar SMP itu diamanahi sebuah tugas besar. Saking besarnya, dia sendiri tidak boleh bercerita kepada siapa pun perihal tugas ini. Bahkan, Leung sendiri tidak tahu tugas yang akan diembannya.

Mobil sedan besar itu menuju lapangan udara yang kini bernama Husein Sastranegara. Sepanjang jalan, Leung melihat ribuan masyarakat Bandung berkumpul di kedua sisinya. Hari itu, 16 April 1955, merupakan hari kedatangan delegasi dari negara-negara Asia-Afrika. Mereka akan menghadiri Konferensi Asia-Afrika di Gedung Merdeka, Bandung.

Leung pun tiba di Lapangan Udara Andir. Dia disuruh menunggu kedatangan sebuah rombongan delegasi. Leung sendiri belum diberitahukan apa tugasnya dan siapa yang dia tunggu. “Di bandara (Andir) saya menunggu lama sampai sore,” cerita Leung dengan Bahasa Indonesia beraksen Tionghoa. “Namun, delegasi yang ditunggu-tunggu tidak kunjung datang,” lanjutnya.

Keesokan harinya, Leung dibawa kembali kembali ke lapangan udara. Seperti hari sebelumnya, dia belum juga diberitahukan tugasnya dan orang yang ditunggunya. “Petugas hanya mewanti-wanti bahwa saya tidak boleh menerima barang apa pun dari siapa pun,” kenang Leung.

Seketika, pemilik nama Jackson Leung ini berpikir seperti seorang prajurit. Jiwa patriotnya muncul dan bergaung dalam hatinya. “Kalau ada penyerangan, saya akan berkorban,” tekadnya ketika itu.

Selang beberapa saat sebelum pesawat delegasi yang ditunggu tiba, Leung baru tahu bahwa tugasnya adalah mengalungkan bunga kepada ketua delegasi China, Zhou En Lai. Zhou adalah Perdana Menteri China ketika itu. Lantaran negaranya merupakan musuh Amerika, membuat Zhou selalu menjadi target pembunuhan intelijen barat.

Seminggu sebelumnya, 11 April 1955, sebuah insiden menimpa sebuah pesawat India berjuluk Kashmir Princess. Pesawat itu jatuh di kepulauan Natuna. Hasil penyelidikan membuktikan Kashmir Princess disabotase. Dalam peristiwa tersebut, 11 staf delegasi RRC dan 2 wartawan tewas. Sedianya pesawat tersebut akan membawa Zhou En Lai ke Indonesia. Beruntung, pada detik-detik terakhir, Zhou memutuskan untuk menunda keberangkatannya.

Tak berapa lama, pesawat Zhou tiba. Leung disuruh segera berlari mendekati Perdana Menteri Indonesia Ali Sastroamidjojo yang tengah berjalan cepat menuju Zhou En Lai. Zhou dan Ali bersalaman dan berpelukan. “Mereka saling menyapa dengan semangat,” cerita Leung.

Tangan kiri Ali kemudian menginstruksikan Leung untuk mendekat sembari tangan kanannya menunjuk ke Perdana Menteri China pertama itu. Leung segera mengalungkan bunga kepada Zhou. “Ni hao,” sapa Leung kepada Zhao.

Leung ingat sekali paras wajah Zhou ketika itu. Telapak tangannya lembut, berwarna putih kemerahan. Kedua orang besar tersebut mengapit Leung muda. “Pak Zhou memeluk saya dan ibu jarinya menekan kuat di dada saya. Sentuhannya begitu hangat,” kenang Leung dengan rasa bangga dan haru. Saking hangat dan kuatnya, Leung masih bisa merasakan aura kebesaran kedua perdana menteri tersebut, meskipun peristiwa itu sudah terjadi 57 tahun yang lalu.

Kini, diusianya ke-72 tahun, pengusaha di Hongkong ini berdiri menceritakan pengalamannya di ruang seluas lapangan sepak bola tersebut. Lebih dari 100 warga Bandung hadir dan terpesona mendengarkan cerita Leung. Decak kagum membahana di sebuah ruangan di Gedung Merdeka yang digunakan Konferensi Asia Afrika pada 18 – 24 April 1955 silam.***

Categories: Napak Tilas | Tinggalkan komentar

Memoar di Balik Pekik “Merdeka!”


Pembacaan teks proklamasi 17 Agustus 1945. (Foto: Blogspot.com)

Pembacaan teks proklamasi 17 Agustus 1945. (Foto: Blogspot.com)

Sejak kapan orang-orang Indonesia mengenal kata “Merdeka”? Sejak kapan mereka menyadari arti penting sebuah kemerdekaan? Sejak kapan pula bangsa Indonesia memiliki kesadaran berkebangsaan? Begitulah pertanyaan yang diutarakan oleh Hawe Setiawan di hadapan kawan-kawan Asia-Africa Reading Club (AARC) di Gedung Merdeka beberapa waktu silam.

Bagaimana pun, kemerdekaan bukanlah sosok yang begitu saja dapat dimengerti oleh rakyat Indonesia. Di Surabaya, pejuang kemerdekaan digambarkan sebagai sosok berambut panjang dengan pistol di kanan-kirinya dan bertindak seperti koboy. Kemerdekaan juga ditafsirkan sebagai bebas bertindak sesuka hati. Padahal, tetap saja ada aturan main yang berlaku dalam kemerdekaan.

Bahkan, ada sebuah anekdot yang cukup miris tentang makna kemerdekaan. Dikisahkan tentara NICA yang merupakan gabungan militer Inggris dan Belanda, tiba di sebuah kota. Di dekatnya ada seorang lelaki paruh baya yang tak sengaja berpapasan dengan konvoi. Tanpa pikir panjang, lelaki ini kemudian meneriakan kata “merdeka” lengkap dengan kepalan tangan di atas kepalanya. Tanpa pikir panjang pula dan tanpa basa-basi, tentara NICA langsung menembaknya hingga tewas. Ternyata, sang lelaki tidak paham makna kemerdekaan. Di benaknya, kata “merdeka” dan kepalan tangan di atas kepala, dimaknainya sebagai kata “halo”, sebuah ungkapan untuk menyapa.

Pada era 1920-an, kesadaran akan jati diri bangsa terjajah dan gagasan tentang Indonesia muncul di kalangan para elite. Mereka adalah sekelompok mahasiswa Indonesia yang sedang berkuliah di Belanda. Beberapa di antaranya adalah Moh. Hatta dan Ali Sastroamidjojo. Guna menyatukan seluruh mahasiswa yang berasal dari Hindia Belanda, mereka membuat sebuah kelompok belajar bernama Perhimpunan Indonesia. “Namun bukan study club (kelompok belajar) yang tujuannya happy-happy,” terang Hawe.

Kelompok belajar ini memiliki visi dan program untuk mewujudkan Indonesia dan memerdekakan bangsanya dari penjajahan kolonial Belanda. Gagasan-gagasan ini secara rutin dituangkan melalui tulisan kemudian dicetak dalam brosur, buku, pamflet, majalah, buletin, dan media cetak lainnya. Gagasan-gagasan ini kemudian menyebar ke dalam jaringan mereka hingga ke Nusantara.

Salah satu orang yang meneruskan gagasan ini adalah Soekarno. “Soekarno ini orangnya multitalent,” ungkap dosen Universitas Pasundan ini. Soekarno memiliki kemampuan membumikan gagasan-gagasan Hatta, sehingga dapat diterima oleh masyarakat Indonesia secara luas.

Di sisi lain, masyarakat Indonesia mulai banyak yang bersekolah dan mengenal huruf. Mereka juga sudah mulai membudayakan membaca. Sehingga dengan mudahnya gagasan tentang kemerdekaan diterima oleh masyarakat Indonesia. Pada akhirnya, banyak orang yang mulai memiliki kesadaran bahwa mereka adalah orang Indonesia. Lebih jauh lagi, membuat mereka sadar akan makna kemerdekaan.

“Kebangsaan berpadu dengan kebudayaan. Di sinilah titik kesimpulannya,” tandas Hawe. Lebih lanjut, kebangsaan dibentuk oleh mekanisme kebudayaan –dalam hal ini budaya membaca dan menulis.

Gagasan kebangsaan ini kemudian tersalurkan dalam berbagai mekanisme kehidupan yang lain. Mulai dari identitas pakaian berupa peci hingga gesekan biola WR Supratman dengan lagunya Indonesia Raya. Kemudian lagu ini dinyanyikan setiap orang di jalanan. “Itulah proses terbentuknya Indonesia. Ada tindakan-tindakan kecil kebudayaan yang membangun Indonesia,” simpul budayawan Bandung ini. “Mulai dari sastra yang adiluhung sampai lagu yang populer, memiliki kontribusi besar terhadap (berdirinya) Indonesia,” tandasnya.

Identitas Kebangsaan

Foto: blogspot.com

Foto: blogspot.com

Proses kemerdekaan dan kesadaran berbangsa Indonesia adalah sebuah pencapaian yang luhur. Karena sebelum merdeka, masyarakat tidak pernah merasa memiliki kesatuan sebagai bangsa Indonesia. Mereka lebih banyak merujuk kepada kerajaan-kerajaan pra-Indonesia, dan mengagung-agungkannya sebagai identitas primordialnya.

Di masyarakat internasional, kebangsaan menjadi referensi utama berhubungan antar negara. Umumnya, orang di dunia tidak akan peduli agama, ras, atau suku, tetapi identitas kebangsaannya. Contohnya saja ketika masuk sebuah negara. Pertama kali yang dipedulikan adalah identitas kebangsaannya.

Identitas kebangsaan merupakan sebuah gagasan yang digagas oleh Benedict Anderson dalam buku Imagine Community. Di situ, Anderson mendefinisikan Nation sebagai Imagine Political Community. Imagine berarti digagas, dipikirkan, dan juga dibayangkan. Bangsa Indonesia merupakan hasil kreativitas abad 20 yang digagas, dipikirkan, dan dibayangkan oleh Perhimpunan Indonesia. Kata kuncinya adalam imajinasi kolektif, yang juga berarti imajinasi komunitas.

“Mengapa kebangsaan disebut ‘something imagine‘?” tanya Hawe kembali. Karena kita tidak mungkin mengenal seluruh orang-orang Indonesia. Sehingga yang menjadi pegangannya adalah imajinasi tentang identitas bernama Indonesia. Misalnya saja ketika bertemu sesama orang Indonesia di luar negeri, kita akan menyebutnya sebagai “my fellow of Indonesia“. “Meskipun bila bertemu di dalam negeri justru akan hare-hare (acuh tak acuh),” canda Hawe.

Dalam hal ini, keindonesiaan adalah sesuatu yang dibayangkan, karena tidak ada pegangan yang bisa diraba. Sedangkan makna komunitas, merupakan ikatan bersama. Dalam hal ini, semacam kelompok yang memiliki banyak anggota.

Lalu, bila bangsa didefinisikan sebagai komunitas yang diimajinasikan (imagine community), lalu apa yang mungkin terealisasi? Lebih lanjut, Hawe menerangkan bahwa imajinasi kolektif direalisasikan antara lain melalui bahasa, terutama bahasa tulis yang kodenya dimengerti oleh sesama.

Kegiatan membaca dan menulis barangkali merupakan hal yang sangat penting dan paling memungkinkan untuk merealisasikan imajinasi. Contohnya saja dengan Ali Sastroamidjojo. Dia boleh dikubur, tetapi tulisannya masih bisa dibaca. Tulisan Ali yang dibaca ini merupakan imajinasi kolektif.

Semua komunitas harus memiliki imajinasi kolektif ini. Harus ada bahasa bersama yang mampu menghubungkan orang, semacam rumusan kehidupan bersama. Karena merupakan imajinasi, maka rumusan ini bisa didefinisikan terus menerus. Dalam hal ini, Hawe menandaskan bahwa “Kitalah yang menentukan masing-masing anggota kehidupannya.”

Memelihara Kebudayaan

Kebudayaan sendiri sebenarnya berbicara tentang pola. Bagaimana pun, kehidupan manusia sebenarnya tanpa pola, kacau, dan tidak terencana. Kekacauan ini seolah-olah tidak bisa dibaca atau chaos of insident.

Meskipun begitu, manusia mencoba menata kekacauan ini dengan mencari pola-pola. Hal ini merupakan bagian kita untuk meraih makna dalam kehidupan. Manusia yang tidak bisa membaca peristiwa atau pola ini, akan menjadi tidak waras. Mereka yang tidak waras, tidak akan bisa mempersepsi keadaan.

Dalam tatanan tata negara, manusia bisa dengan mudah merubahnya. Syaratnya adalah kesepakatan bersama. Namun, tidak mudah untuk merubah kebudayaan. Karena hal ini membutuhkan waktu yang lama. Bagaimana pun, budaya adalah hal yang sulit berubah.

Foto: blogspot.com

Foto: blogspot.com

Contohnya saja identitas primordial bangsa Indonesia. Meskipun sudah 67 tahun merdeka, tapi masih banyak orang berpikiran seperti orang-orang pra-Indonesia. Hal ini salah satunya dapat dilihat dalam pandangan bangsa Indonesia terhadap presiden. Pemimpin negara dipandang sebagai raja atau sultan. Sehingga istilah yang digunakan pun masih perintah atau pemerintah. Secara harfiah bermakna orang yang memerintah, bukan melayani rakyat. Sehingga jangan heran pemerintah tidak melayani rakyat, karena dia memerintah.

Dalam hal ini, bangsa Indonesia ingin egaliterian di satu pihak. Namun, di pihak lain, secara kultural masih belum berubah. Akhirnya yang terwujud adalah sinkretisme atau campuran yang beraneka ragam. Contohnya terdapat dalam konsep Nasional, Agama, Komunis (Nasakom). Konsep ini menurut Hawe merupakan bentuk sinkretisme politik di era Soekarno guna meramu keragaman di Indonesia.

Meskipun begitu, inilah kekuatan Indonesia, ada dalam hal meramu. Tak heran bila Hawe menilainya sebagai bangsa yang sulit didefinisikan. “Kacau sekaligus indah,” cetusnya.

Secara kebudayaan, hal ini merupakan kelebihan bangsa Indonesia. Bangsa ini mampu memelihara kreativitas kolektif yang memungkinkan terwujudnya pendidikan ke arah pembukaan wawasan baru.

Kuncinya adalah pendidikan humaniora dan kebahasaan. Di kemudian hari, hal ini bisa membantu memelihara Indonesia. Karena pendidikan memiliki peran penting, terutama memberikan kesadaran akan kekayaan perspektif. Sehingga orang menjadi peka terhadap kehidupan dan mampu mengenali serta menyusun pola kehidupannya.***

Categories: Kegiatan, Napak Tilas | Tinggalkan komentar

Jejak Inspirasi Semangat Bandung Ali Sastroamidjojo


Buku "Tonggak-Tonggak di Perjalananku" edisi awal. Museum Konferensi Asia-Afrika (MKAA) Bandung pada 2012 ini menerbitkan kembali buku ini. (Foto: Blogspot.com)

Buku “Tonggak-Tonggak di Perjalananku” edisi awal. Museum Konferensi Asia-Afrika (MKAA) Bandung pada 2012 ini menerbitkan kembali buku ini. (Foto: Blogspot.com)

Sinar matahari sore menyelinap genit di antara awan mendung yang bergelayutan di atas Bandung. Namun, air hujan belum juga mau beranjak turun. Bukan hanya sore ini saja. Sudah 4 pekan sore, air belum juga berkenan membasahi bumi.

Seperti sore-sore di musim kemarau yang kering pada umumnya, sore ini pun Kota Bandung terbuat dari antrian kendaraan yang mengular di setiap sudut jalanan. Memadati udara kota dataran tinggi itu dengan debu polusi dari knalpot mobil dan motor.

Di sini, di sudut Gedung Merdeka, sebuah ruangan berjuluk Audio-Visual dan berukuran 3/4 lapangan bulu tangkis, padat dengan manusia. Ada sekitar 60 kursi yang disusun berbentuk huruf “U” berlapis tiga. Perlahan tapi pasti, setiap kursi mulai terisi manusia.

Semakin petang, jumlah manusia semakin bertambah. Saking padatnya, beberapa orang memilih berlalu lalang di lorong depan ruangan. Mengusir suntuk mungkin. Namun, sebagian besar orang-orang di dalam ruangan memilih untuk bertahan.

Setiap kepala tertunduk khusyu. Di tangan sebagian mereka, terpatri sebuah buku setebal 666 halaman. Semuanya sepakat membuka halaman 640. Salah seorang di antaranya, membaca kata demi kata dengan lantang. Tak selalu lantang memang, tetapi dia berusaha agar suaranya terdengar hingga ke seantero ruangan. Sedangkan hadirin lainnya menyimak dengan khusyu.

Kekhusyuan ini bukanlah baru pertama kali dilakukan oleh sebagian dari mereka. Sejak Februari lalu, sekelompok pemuda mulai menapaki huruf demi huruf biografi Ali Sastroamidjojo ini. Mereka menamai dirinya Asia-Africa Reading Club (AARC). Sedangkan buku yang tengah mereka baca berjudul Tonggak-Tonggak di Perjalananku yang ditulis sendiri oleh Ali Sastroamidjojo.

Setiap Rabu, sekitar 10 hingga 15 orang rutin berkumpul dan membaca bersama-sama. Mereka menyebutnya sebagai “tadarusan”. Aktivitas ini memang lumrah dilakukan untuk membaca Alquran secara berkelompok. Namun, masih jarang sekelompok orang mempraktikannya untuk membaca buku beraksara latin dengan Bahasa Indonesia.

Halaman demi halaman mereka santap setiap pekannya. Tak cukup sampai di situ, mereka pun menghadirkan pengkaji sejarah dan budaya ke dalam aktivitas pekanan AARC. Beberapa yang pernah menorehkan namanya dalam aktivitas tadarusan, antara lain: Acep Iwan Saidi, Alfathri Adlin, Dina Y Sulaeman, dan Hawe Setiawan. Mereka menorehkan kesan mendalam di kenangan dan pikiran para punggawa AARC.

***

Plh Museum Konferensi Asia-Afrika (MKAA) Elly Nugraha (tengah) menerima tanda terima kasih dari keluarga besar Ali Sastroamidjojo yang diwakili oleh Tarida Sastroamidjojo (kiri). (Foto: Yudha PS)

Plh Museum Konferensi Asia-Afrika (MKAA) Elly Nugraha (tengah) menerima tanda terima kasih dari keluarga besar Ali Sastroamidjojo yang diwakili oleh Tarida Sastroamidjojo (kiri). (Foto: Yudha PS)

Adzan Maghrib sayup-sayup berkumandang di masjid-masjid sekitar jalan Braga dan jalan Asia-Afrika Bandung. Aktivitas hiruk-pikuk kehidupan Bandung lambat-laun mereda, seiring petang yang mulai berganti malam. Namun tidak di Ruang Audio-Visual Gedung Merdeka.

Di ruangan yang semakin sesak, keriuhan hadirin semakin bergema. Kini, lembaran yang terbuka di buku biografi Ali Sastroamidjojo menunjukan halaman 656. Tinggal 3 paragraf lagi, dan usailah sudah perjuangan 8 bulan melahap sebuah buku secara berjamaah. Sedangkan 10 halaman lagi sisanya, hanyalah daftar indeks dan catatan pelengkap buku lainnya. Tidak masuk hitungan untuk dibaca juga.

Uniknya, dia yang sedang membaca bentuk fisiknya jelas sangat berbeda dengan hadirin kebanyakan. Hitam dan berambut pendek-keriting. Bahasa Indonesianya pun sangat terbata-bata. Wajar saja, pembacanya adalah seorang Uganda yang mulai bisa Bahasa Indonesia, meskipun masih sedikit. Meskipun begitu, keadaan tersebut tidak menyurutkannya untuk menyelesaikan satu paragraf teks dari buku Tonggak-Tonggak di Perjalananku.

Musa Muwaga namanya. Modal membaca napak tilas Ali Sastroamidjojo hanya hasil dari interaksinya selama berkuliah di Universitas Padjadjaran Bandung. Sisanya, dia percayakan sepenuhnya pada teks-teks latin berbahasa Indonesia, yang berusaha ia baca. Warga Asia-Afrika lainnya yang kebetulan hadir di acara ini adalah Yagura Roichi, seorang warga Jepang yang tengah melakukan penelitian di Museum Konferensi Asia-Afrika. Dia pun turut membaca bait-bait kenangan Ali Sastroamidjojo dengan sangat terbata-bata. Tekad keduanya untuk membaca pun mampu menuai pujian dan tepuk tangan hadirin lainnya.

***

Tepat jam 18:05 WIB, kalimat terakhir dalam paragraf terakhir buku biografi Ali Sastroamidjojo pun usai dikumandangkan. Ritual tadarusan ini ditutup oleh pemaparan riwayat singkat Ali Sastroamidjojo yang dibacakan oleh kang Desmond Satria Andrian, sosok tinggi-besar yang sampai saat ini selalu menginsipirasi Sahabat MKAA untuk berkegiatan di Gedung Merdeka.

Ali Sastroamidjojo sendiri merupakan salah satu Bapak Bangsa Indonesia. Kiprahnya untuk memperjuangkan dan mempertahankan kemerdekaan Indonesia sangat besar. Di masa-masa awal pemerintahan Indonesia berdiri, beliau ditunjuk sebagai menteri pendidikan dan kebudayaan. Dia juga duta besar pertama Indonesia untuk Amerika yang mengawali membuka perwakilan Indonesia di negeri Paman Sam.

Salah satu puncak karir Ali Sastroamidjojo yang paling diingat oleh banyak orang adalah jabatannya sebagai Perdana Menteri Republik Indonesia. Di titik ini, “Ali merupakan sosok pejuang diplomasi, dengan jiwa internasionalisasi yang konsisten, khususnya konsisten terhadap semangat Bandung,” nilai Elly Nugraha, plh Kepala Museum Konferensi Asia-Afrika Bandung, dalam sambutan pada syukuran Khataman Tadarusan buku Tonggak-Tonggak di Perjalananku.

Elly berharap, melalui bukunya ini, sosok Ali bisa masuk ke relung-relung pemuda yang merupakan generasi penerus Bangsa.

Plh Museum Konferensi Asia-Afrika (MKAA) Elly Nugraha tengah memotong tumpeng tanda berakhirnya tadarusan buku biografi Ali Sastroamidjojo. (Foto: Yudha PS)

Plh Museum Konferensi Asia-Afrika (MKAA) Elly Nugraha tengah memotong tumpeng tanda berakhirnya tadarusan buku biografi Ali Sastroamidjojo. (Foto: Yudha PS)

Dalam kesempatan ini, hadir juga Tarida Sastroamidjojo, cucu dari Ali Sastroamidjojo yang hadir mewakili keluarga besar Ali Sastroamidjojo. Tarida menghaturkan penghargaan kepada pengelola MKAA. “Saya merasa haru dan bangga bahwa pihak Museum Konferensi Asia-Afrika Bandung memberikan perhatian pada karya beliau. Bahkan mencetak dan menerbitkannya, termasuk menyebarkan (buku Ali Sastroamidjojo) ke khalayak luas,” ungkapnya di depan hadirin dengan penuh haru. “Semoga isi pesan beliau bisa membuka cakrawala pengetahuan bagi generasi muda,” tutupnya.

***

Ali Sastroamidjojo adalah inspirasi. Itulah kesimpulan dari peserta Khataman Tadarusan Tonggak-Tonggak di Perjalananku. Seperti yang dikemukakan oleh Norma, anggota Asia-Africa Reading Club (AARC). Selama membaca buku biografi Ali Sastroamidjojo, ibu satu anak ini mengaku mendapatkan banyak ide untuk menggelorakan semangat “Bandung Ibu Kota Asia-Afrika”.

Contohnya saja, Norma terinspirasi untuk menggelar lomba baca dan malam keakraban pemuda Asia-Afrika. Meskipun banyak kendala, tetapi Norma yakin semangat Bandung bisa mendobrak segala keterbatasan yang ia dan teman-temannya miliki. “Seperti (pemerintah) Indonesia dengan keterbatasan ekonominya mampu mewujudkan KAA 1955,” tandasnya.

Semangat senada dirasakan oleh Aryo, anggota AARC. Gitaris serta desainer asal Bandung ini terinspirasi untuk menggaungkan Bandung Ibu Kota Asia-Afrika ke seantero Bandung. Untuk mengejawantahkan semangatnya ini, Aryo memulainya dengan merancang kaos dengan pesan “Bandung Ibu Kota Asia-Afrika”.

***

Karya terakhir Ali Sastroamidjojo ini mampu menghadirkan tokoh-tokoh sejarah dengan sangat manusiawi. Itulah penilaian Desmond, dalam pengantar Khataman Tadarusan buku Tonggak-Tonggak di Perjalananku. “Karena ditulis dalam bahasa tutur yang baik,” ungkapnya. Alumnus Sastra Perancis UNPAD ini juga mengungkapkan bahwa Ali merupakan sosok yang memiliki pandangan Indonesianisme dan Panasianisme yang kuat.

Peran Ali Sastroamidjojo dalam percaturan diplomasi Indonesia tampak sekali dalam drama Konferensi Asia-Afrika (KAA) 1955. Ali sebagai sutradara besar konferensi, berhasil meyakinkan 4 perdana menteri lainnya pada konferensi Kolombo untuk menyelenggarakan KAA 1955. “Tanpa Colombo Plan, tidak ada KAA,” tandas Desmond.

Kebesaran Ali semakin tampak ketika KAA 1955 terselenggara di Bandung. Kecanggihan diplomasinya mampu mengakomodir berbagai latar belakang ideologi untuk bersatu dalam forum internasional kulit berwarna pertama di dunia itu.

Hal ini salah satunya tampak pada hari kelima penyelenggaraan KAA 1955. Pada pertemuan politik yang dihadiri seluruh perdana menteri, Chou En Lai, Perdana Menteri China, berkonflik dengan John Kotawala, Perdana Menteri Chevlon. Hampir-hampir, KAA 1955 gagal. Namun, berkat campur tangan Ali, konflik tersebut mampu diredam dan KAA 1955 mampu menghasilkan Dasa Sila Bandung di malam penutupannya.

Sebagai penutup, Desmond menandaskan bahwa sisi internasionalisme Ali Sastroamidjojo tampak di halaman-halaman akhir biografinya. Ali masih sempat mendoakan Perserikatan Bangsa-Bangsa untuk lebih baik lagi. “Sesuatu (pemikiran) yang patut kita apresiasi tentunya,” tutup Desmond yang disambut tepuk-tangan dari hadirin.

Semoga, tepuk-tangan tanda terinspirasi untuk menggelorakan semangat Bandung, untuk sebuah Indonesia dan dunia yang lebih baik lagi.***

Categories: Kegiatan | Tag: , , , , , , , , , | Tinggalkan komentar

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.