Pindah Rumah ke Sahabatmkaa.com


Sejak 1 April 2013,
Sahabatmkaa.wordpress.com
pindah rumah ke Sahabatmkaa.com.

Bila Anda memiliki tautan tulisan terdahulu di situs ini, Anda masih bisa menemukannya di alamat baru.

Categories: Uncategorized | 1 Komentar

Open Recruitment Redaksi Situs Sahabat MKAA


Sahabat Museum Konferensi Asia-Afrika membuka rekruitmen untuk menjadi anggota redaksi situs Sahabat MKAA. Adapun ketentuannya adalah sebagai berikut:

  1. Syarat
    • Memiliki ketertarikan terhadap media dan jurnalisme: menulis, fotografi, atau videografi
    • Memiliki semangat untuk belajar
    • Mampu bekerja dalam tim
    • Bersedia bekerja dengan deadline
    • Terbiasa menggunakan komputer dan internet
    • Berusia antara 17 hingga 25 tahun
    • Bersedia mengikuti rapat redaksi mingguan selama 6 bulan ke depan
    • Bersedia melakukan kegiatan peliputan terkait Museum Konperensi Asia Afrika, baik di Bandung maupun di luar kota
  2. Fasilitas
    • Kartu Tanda Pengenal Redaksi
    • Pelatihan keterampilan jurnalisme
    • Buku Jurnalisme Praktis
  3. Persyaratan Administrasi
    1. Curriculum Vitae
    2. Pas Foto Berwarna
  4. Seluruh persyaratan administrasi dikirimkan ke e-mail sahabat.mkaa@gmail.com dengan subjek: Rekruitment Redaksi Sahabat MKAA paling lambat 18 Februari 2013 jam 23:59 WIB.
Categories: Agenda | Tags: , | Tinggalkan komentar

Pengumuman Pemenang Lomba Menulis “Aku dan Sahabat Disabilitasku” Dalam rangka Hari Internasional Penyandang Disabilitas Tahun 2012


Pengumuman Pemenang Lomba Menulis “Aku dan Sahabat Disabilitasku”

Dalam rangka Hari Internasional Penyandang Disabilitas Tahun 2012

JUARA I

YUNIAR RIZKY SARASWATI

Score 1680

“Disabilitas Tak Akan Pernah Menghalanginya”

 

JUARA II

OCI YM

Score 1210

“Maka Nikmat Tuhan Kamu yang Manakah yang Kamu Dustakan?”

 

JUARA III

AMELIA UTAMI

Score 1175

“Mengenal Lebih Dekat Penyandang Disabilitas Lewat Bengkel Kreasi GaPat”

 

JUARA HARAPAN I

HENDRO UTOMO

Score 1150

“Kebutaan Tak Bisa Mengambil Ambisiku”

 

JUARA HARAPAN II

RYAN MUTTAQIN

Score 1115

“Antara Batas, Keterbatasan, dan Tidak Terbatas”

 

JUARA HARAPAN III

PALUPI JATUASRI

Score 1065

“Di Balik Manisnya Madu Hutan Raya”

Mengetahui,

Bandung, 31 Desember 2012

 

Kepala Museum KAA,                                                                                                                     Ketua MataHati Indonesia,

Thomas Siregar                                                                                                                                  dr. Diah Puspitosari

Selamat kepada seluruh pemenang lomba. Pemberitahuan resmi akan dihubungi langsung oleh pihak Museum Konperensi Asia Afrika Bandung, CP Gilang A. Jabbar : 081910036427.

Hati-hati jika ada penipuan yang mengatasnamakan MKAA.

Peserta tidak dipungut biaya.

Categories: Kegiatan | 3 Komentar

Lomba Blog “Aku dan Sahabat Disabilitasku”


Dalam rangka International Day of Person with Disabilities, Museum Konferensi Asia-Afrika bekerja sama dengan Mata Hati Indonesia menyelenggarakan lomba menulis blog Hari Internasional Penyandang Disabilitas (HIPENDIS) 2012. Adapun tema perlombaan kali ini adalah “Aku dan Sahabat Disabilitasku“.

Periode Lomba

Lomba ini berlangsung pada 1 – 29 Desember 2012. Pemenang akan diumumkan melalui situs ini pada: 31 Desember 2012.

Syarat dan Ketentuan:

  • Lomba menulis ini terbuka untuk umum.
  • Peserta lomba adalah perseorangan.
  • Tulisan dipublikasikan dalam blog peserta.
  • Peserta dapat menggunakan layanan blog apapun, kecuali blog organisasi dan kelompok.
  • Peserta boleh mengirimkan lebih dari satu tulisan.
  • Peserta wajib mengirimkan biodatanya dengan format berikut: Nama, Alamat Rumah, No. Handphone, Email, Facebook, Twitter, Alamat Blog, dan URL Tulisan. Biodata dikirim melalui email ke sahabatmkaa@gmail.com dan sahabat.disabilitas@gmail.com dengan subject: Lomba Menulis Aku dan Sahabat Disabilitasku. Setiap email, memuat hanya 1 URL Tulisan, tidak lebih.
  • Peserta minimal telah memiliki 5 tulisan dalam blognya sebelum mendaftarkan diri pada lomba ini.
  • Peserta wajib memasang Banner Sahabat Difabel di halaman muka blognya. Untuk mengambil banner, klik tautan ini.
  • Peserta harus memasang tag/label SahabatDifabel di setiap tulisannya di blog.
  • Panjang tulisan MINIMAL 2.500 karakter.
  • Tulisan menggunakan Bahasa Indonesia.
  • Materi yang diikutsertakan adalah tulisan. Peserta boleh menambahkan gambar, suara, dan video pada tulisannya tersebut.
  • Peserta harus menyukai (like) halaman Facebook (FanPage) Sahabat Disabilitas dan mengikuti (follow) Twitter @Sahabat_Difabel.
  • Tulisan harus dibagi (share) di Twitter dan Facebook peserta masing-masing. Tulisan yang dibagi di Twitter harus menyebut (mention) @Sahabat_Difabel. Sedangkan tulisan yang dibagi di Facebook harus menandai (tag) halaman (FanPage) Sahabat Disabilitas.
  • Karya bukan hasil jiplakan. Peserta yang diketahui menjiplak, akan langsung masuk dalam Daftar Hitam (Black List) dan tidak diperkenankan mengikuti perlombaan.
  • Setiap tulisan yang diikutsertakan tunduk dalam lisensi karya cipta bersama CC BY-NC-SA 3.0.
  • Keputusan Dewan Juri bersifat mutlak dan tidak bisa diganggu gugat.

Dewan Juri:

  • Yudha P Sunandar (Blogger, Online Citizen Journalist, Pengkaji Citizen Journalism)
  • Ricky Mardiansyah (Blogger, Pemenang Kategori Khusus Indonesian Human Rights Blog Awards 2012)
  • Hendra “Veejay” Purnama (Penulis, Novelis, FilmMaker)

Kriteria Penjurian:

  • Orisinalitas gagasan
  • Kesesuaian dengan tema
  • Kejelasan penyampaian
  • Gaya Bahasa dan Penulisan
  • Inspiratif

Hadiah

  • Pemenang I: uang tunai 1 juta Rupiah
  • Pemenang II: uang tunai 500 ribu Rupiah
  • Pemenang III: uang tunai 250 ribu Rupiah

Kegiatan ini didukung oleh:

Sahabat Museum Konferensi Asia-Afrika (SMKAA), Komunitas Film Layar Kita, Asian-African Reading Club (AARC), Pusat Pemberdayaan Open Source Software (POSS) UPI, Kabuyutan Braga, Museum Braga, dan Bengkel Kreasi GaPat Bandung.

Categories: Agenda | 15 Komentar

Linimassa 2, Cerita Luar Biasa Persembahan Bangsa


Oleh: Ricky Mardiansyah

Suasana menonton film Linimassa 2. (Foto: Dok. MKAA)

Suasana menonton film Linimassa 2. (Foto: Dok. MKAA)

Film adalah media yang ampuh. Perannya tidak hanya sebagai hiburan semata. Lebih dari itu, film bisa menjadi alat propaganda politik. Seperti pada masa Perang Dingin antara Blok Barat dan Blok Timur. Kedua blok saling menyerang menggunakan media film.

Film juga berfungsi sebagai alat penyebaran budaya dan pengaruh dari negara adikuasa seperti sekarang ini. Jika diproduksi oleh pihak-pihak yang mempunyai kepedulian, film juga dapat menjadi alat edukasi dan penyebar energi-energi positif untuk masyarakat luas.

Sudah sejak lama saya suka menonton film dari berbagai genre. Namun untuk genre film dokumenter, jumlah yang saya tonton masih bisa dihitung dengan jari dari satu tangan.

Salah satunya adalah Linimassa 2. Sebuah film dokumenter yang diproduksi secara crowd funding atau patungan. Dananya sendiri berasal dari berbagai kalangan, baik perseorangan maupun institusi. Meskipun bertajuk patungan, tetapi dana yang terkumpul mencapai 167 juta Rupiah.

Keunikan lainnya, film garapan sutradara Dandy Laksono ini diputar serentak di 50 titik berbeda di seluruh Indonesia pada 3 Nopember 2012 lalu. Termasuk salah satunya di Museum Konferensi Asia-Afrika Bandung. Saya sendiri, dipercaya sebagai pembahas film ini dalam sesi diskusi.

Linimassa 2 dibuka dengan cuplikan berita konflik Ambon 11 September 2012 lalu. Cuplikan ini berasal dari berbagai media massa nasional, baik online maupun televisi. Cuplikan ini ternyata mampu menggugah rasa penasaran saya. “Apa maksud di balik cuplikan itu?” pikir saya waktu itu.

Jawabannya pun cukup mengejutkan. Cuplikan-cuplikan berita tersebut memperlihatkan media massa mainstream yang menyampaikan informasi yang belum tentu benar terjadi di lapangan. Saya suka dengan ungkapan yang disampaikan film ini. “Musuh terbesar media adalah dirinya sendiri. Musuh yang mestinya diajak berdamai. Berdamai dengan rating dan iklan,” gugat film ini.

Contohnya saja mengenai pemberitaan konflik Ambon. Media massa mainstream saat itu menyampaikan informasi yang tidak sesuai keadaan sebenarnya di lapangan. Alih-alih menenangkan, justru pemberitaannya malah memperpanas keadaan.

Untungnya ada orang-orang yang peduli dan aktif menggunakan teknologi sosial media untuk menyebarkan informasi yang benar. Almas contohnya. Pemuda Ambon ini menggunakan Twitter untuk memverifikasi keadaan yang sebenarnya terjadi di lokasi terjadinya konflik. Tidak hanya Almas. Banyak komunitas Maluku yang juga berkomitmen untuk menciptakan perdamaian melalui penyebaran informasi yang benar dan berpihak pada perdamaian. Bagaimana pun, kita butuh informasi positif yang mampu membuat pikiran kita menjadi positif, sehingga kita mampu melakukan hal-hal positif dalam kehidupan ini.

Belum beranjak 10 menit pemutaran, film Linimassa 2 ini sudah membuat saya terkagum-kagum, khususnya dengan perjuangan orang-orang seperti mereka. Kekaguman ini membuat saya memimpikan media massa di Indonesia akan didominasi oleh peace journalism suatu saat nanti.

Linimassa 2. (Foto: linimassa.org)

Linimassa 2. (Foto: linimassa.org)

Linimassa 2 sendiri menurut saya merupakan sebuah film yang sarat inspirasi. Di dalamnya, untaian inspirasi ini dirajut melalui perjalanan seorang jurnalis radio bernama Manda. Ia berkeliling ke berbagai pelosok daerah untuk bertemu orang-orang biasa yang melakukan hal-hal luar biasa menggunakan bantuan teknologi informasi dan media sosial.

Setelah dari Maluku, perjalanan Manda berlanjut ke Yogyakarta. Di Kota Pelajar itu Manda mendatangi sebuah Kampung Cyber. Sekilas, kampung ini sama seperti kampung-kampung di Yogya pada umumnya. Yang membedakannya, 90 persen rumah warga di Kampung Cyber sudah memiliki akses internet. Bahkan, pos kampling kampung pun dilengkapi akses internet! Fakta yang membuat saya terkejut dan penonton tertawa.

Adapun teknologi yang digunakan kampung ini merupakan RT/RWnet Mandiri. Teknologi ini dirintis oleh Onno W Purbo, sang pakar Internet Indonesia. Warga cukup terbantu dengan kehadiran internet di kampungnya. Misalnya saja anak-anak. Umumnya mereka menggunakan internet sebagai alat bantu belajar dan hiburan.

Salah satu pelajaran penting dari film ini, orang tua harus menemani anak-anaknya ketika mengakses internet. Tujuannya, agar anak-anak tidak terpengaruh dampak buruk dari internet. Hal ini pula lah yang berlaku di Kampung Cyber. Orang tua harus menemani anak-anaknya selama berselancar di internet.

Internet juga digunakan sebagai media berniaga. Seperti yang dicontohkan Lek Iwon. Dia menggunakan Facebook dan blog sebagai media promosi jualan batiknya. Batik Lek Iwon pun terjual hingga ke mancanegara. Selain tujuan komersil, Lek Iwok juga bertekad melestarikan batik melalui internet. Mungkin, atas kontribusi kecil Lek Iwok juga lah, pengakuan batik sebagai warisan dunia oleh UNESCO, semakin terpatri di masyarakat internasional.

Film Linimassa 2 juga menunjukan kecanggihan internet sebagai sahabat untuk melestarikan bumi. Inisiatif ini salah satunya hadir dari pedalaman Jawa Barat. Tepatnya di Tasikmalaya, sebuah radio komunitas bernama Ruyuk FM menggunakan internet sebagai media penyadaran penghijauan. Mereka menggunakan situs web dan perangkat lunak berbasis open source, perangkat lunak yang gratis dan kebal dari virus.

Selain menggunakan internet sebagai sarana penyadaran penghijauan, Ruyuk FM juga mengunggah informasi seputar kegiatan warga desanya. Bahkan, program pemerintah dan laporan desa pun masuk dalam situs mereka yang beralamat di mandalamekar.or.id. Adapun kontributornya adalah warga kampunya sendiri.

Ada satu hal unik dari masyarakat Tasikmalaya ini ketika mengakses internet. Mereka harus berdiam diri di tengah sawah hanya untuk mengunggah kontennya ke internet. Selidik punya selidik, di tengah sawah inilah mereka bisa mendapatkan akses internet yang baik dan stabil. Potret inilah yang membuat kita seharusnya bersyukur atas akses internet di perkotaan yang relatif jauh lebih baik, lancar, dan stabil. Empat jempol untuk Ruyuk FM.

Linimassa 2 tidak hanya menampilkan maskulinitas semata. Film ini juga menyorot aksi srikandi-srikandi Indonesia. Mereka menjadikan internet dan sosial media sebagai alat perjuangan untuk melawan stigma, diskriminasi, dan ketidaktahuan masyarakat. Beberapa srikandi ini, antara lain Ayu Oktariani dari komunitas ODHA Berhak Sehat, Angkie Yudistia dari komunitas disabilitas, dan komunitas Emak-Emak Blogger.

Ayu sendiri menggunakan internet sebagai sarana untuk mensosialisasikan Orang Dengan HIV dan AIDS (ODHA) kepada masyarakat. Usahanya ini mampu menyadarkan masyarakat terkait ODHA. Contohnya saja, masyarakat menjadi tahu bahwa wanita maupun pria dengan HIV/AIDS masih bisa menikah dan mempunyai anak seperti pasangan pada umumnya. Pengetahuan ini membangun kepercayaan kepada ODHA dan mengurangi diskriminatif kepadanya.

Perjuangan srikandi lainnya hadir dari kalangan disabilitas, Angkie Yudistia. Dia menyadari bahwa diskriminasi terhadap penyandang disabilitas selalu ada, bahkan berlipat ganda. Namun, dia tidak ingin dikasihani. Untuk itulah, Angkie berusaha melawan diskriminasi melalui sosial media. Dia banyak mensosialisasikan hak-hak penyandang disabilitas.

Kita, sebagai manusia yang diciptakan tidak kurang suatu apapun oleh Tuhan, seharusnya bersyukur dan malu. Apalagi jika kita mendiskriminasi sahabat kita yang merupakan penyandang disabilitas. Sahabat disabailitas hanya ingin diperlakukan dan mendapatkan kesempatan yang sama seperti orang lain.

Film Linimassa 2 ini juga membuat saya kembali tertegun ketika srikandi lainnya hadir. Seorang wanita tua berusia 72 tahun bernama Yati Rachmat. Meski usahanya termasuk senja, tetapi dia tetap produktif dengan berbisnis online melalui blog. Beliau merupakan anggota dari Emak-Emak Blogger. Alasannya pun sederhana: beliau takut cepat pikun. Melalui sosial media lah Yati mendapatkan jawabannya. Sehingga dia terus berupaya untuk tetap berpikir dan berbuat di usianya yang sudah tidak muda lagi.

Apakah saya bisa tetap produktif seperti beliau? Kita semua patut mencontoh beliau yang mempunyai keinginan dan semangat kuat untuk produktif dan belajar sesuatu yang baru. Orang awam yang belum tahu banyak tentang internet, bisa belajar bahwa internet dapat menjadi peluang bisnis yang baik.

Perjalanan Manda kembali berlanjut ke pulau Lombok. Di sana ia bertemu komunitas radio Primadona FM. Radio ini diciptakan masyarakat Kampung Bajo dengan segala keterbatasannya. Para pendengar radio dapat menyampaikan keluh kesahnya mengenai pelayanan publik dan keadaan sekitarnya.

Film Linimassa 2 ini juga membuktikan bahwa kondisi pendidikan di daerah terpencil masih sangat memprihatinkan. Hal ini tampak dari kondisi sekolah Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) di Pawang Tumpas Barat. Sarana sekolah hanya beratapkan terpal dan bertiang bambu serta dekat kandang sapi. Meskipun begitu, beruntung kita masih memiliki orang-orang hebat yang mau bekerja dengan ikhlas tanpa bayaran untuk mengajar di daerah terpencil. Seperti ibu guru Sioni.

Kemendikbud dan para wakil rakyat yang duduk di gedung megah di ibukota sana seharusnya melihat film ini. Tujuannya agar mereka sadar dan malu, itu pun apabila mereka masih punya rasa malu.

Ibu guru Sioni sendiri hanya bisa mengeluh ke Primadona FM. Belum jelas kelanjutan ceritanya di Lombok sana. Namun, saya hanya berharap semoga PAUD-nya mendapatkan bantuan yang semestinya.

Lalu hadir juga sosok Kitanep, seorang penjaga hutan Taman Nasional Rinjani. Dia bertugas menjaga pasokan air bagi sebuah dusun di sana. Untuk kerja kerasnya selama sebulan, Kitanep hanya digaji 315 ribu Rupiah. Ketika pipa bocor dan warga menderita kekurangan air, Kitanep juga mengadu ke Primadona FM, sehingga pemerintah turun tangan untuk memberikan bantuan.

Berkat bantuan internet, Komunitas Primadona FM mengunggah foto-foto pipa bocor diambil Kitanep. Hal ini menghasilkan bantuan dari berbagai pihak. Gaji yang kecil tak menghalangi Kitanep untuk bekerja dengan baik dan ikhlas. Hal yang patut dijadikan contoh oleh kita semua, khususnya Anggota Dewan yang terhormat.

Banyak pengetahuan yang kita dapatkan dengan menonton film Linimassa 2 ini. Kita jadi tahu bahwa ada banyak orang biasa di berbagai daerah di Indonesia yang melakukan hal-hal luar biasa berkat penggunaan bijak teknologi dan internet. Meskipun hidup dengan segala kekurangannya, tetapi mereka tetap mampu berguna bagi banyak orang.

Selain itu, kita juga tahu data statistik pengguna internet, sosial media, dan telepon selular di Indonesia yang luar biasa banyaknya. Ditambah kita harus pandai-pandai menyerap informasi, khususnya yang dikeluarkan oleh media mainstream. Satu hal terpenting: jangan mudah terprovokasi. Film Linimassa 2 ditutup dengan lantunan indah nan merdu lagu berjudul Maluku Tanah Pusaka yang dinyanyikan oleh Glenn Fredly.

Film persembahan ICT Watch ini merupakan sebuah film dokumenter yang sangat bagus. Ceritanya begitu menarik dan berbobot disertai beberapa gambaran alam Indonesia yang indah. Film ini bagaikan gambaran linimasa bangsa Indonesia yang menampilkan cerita-cerita luar biasa. Film ini seharusnya diputar juga di semua sekolah-sekolah setingkat SMP dan SMA di seluruh Indonesia. Harapannya, agar para siswa tertular energi positif dari film ini.

Linimassa 2 juga menggugah kesadaran kita semua, khususnya saya sebagai orang yang tinggal di perkotaan dengan segala fasilitas yang ada. Ayo kita belajar dari sosok-sosok hebat di film ini dan gunakan teknologi serta internet sebaik-baiknya agar berguna bagi orang banyak demi kemajuan Indonesia tercinta!*** (YUPS)

Categories: Kegiatan, Resensi | Tags: , , , , | Tinggalkan komentar

Seminar International Day of Persons with Disabilities: Kita Ada, Kita Berbagi


International Day of Persons with Disabilities

International Day of Persons with Disabilities

Dalam rangka International Day of Persons With Disabilities, Museum Konferensi Asia-Afrika (MKAA) Bandung bekerjasama dengan Mata Hati Indonesia akan menyelenggarakan Seminar Kita Ada, Kita Berbagi. Kegiatan ini akan diselenggarakan pada Senin, 3 Desember 2012 jam 16 – 18 WIB di Ruang Pamer Tetap Museum Konferensi Asia-Afrika, Jalan Asia-Afrika no. 65 Bandung.

Hadir sebagai pembicara Desmond Satria Andrian, staf Museum Konferesi Asia-Afrika; Ipan Hidayatulloh, ketua Mata Hati Indonesia; dan Ahmad Nugraha, Ketua Komisi D DPRD Kota Bandung. Seminar ini juga akan diisi dengan penampilan seni Bengkel Kreasi GaPat Bandung, sebuah kelompok teater yang digawangi oleh penyandang disabilitas di Bandung. Selain itu juga, akan ada peluncuran situs web tbc.

Informasi lebih lanjut, hubungi Sahabat Museum KAA melalui Gilang A Jabbar di 0857 2220 3355, 022 423 3564, atau melalui sahabatmkaa@yahoo.com. Bisa juga melalui Twitter di @sahabat_difabel dan FanPage Facebook Sahabat Disabilitas.

Kegiatan ini didukung juga oleh Pemerintah Provinsi Jawa Barat, Sahabat Museum KAA, Komunitas Film Layar Kita, Asian-African Reading Corner (AARC), Pusat Pemberdayaan Open Source Software (POSS) UPI, Kabuyutan Braga, dan Bengkel Kreasi GaPat Bandung.

Categories: Agenda | Tags: , | Tinggalkan komentar

Sang Perintis, Kisah Pahlawan Dokumen Geologi Indonesia


Oleh: Ricky Mardiansyah

Suasana nonton bareng film Sang Perintis di MKAA Bandung. (Foto: Dok. MKAA Bandung)

Suasana nonton bareng film Sang Perintis di MKAA Bandung. (Foto: Dok. MKAA Bandung)

Pada 10 Nopember 2012 lalu, Museum Konferensi Asia Afrika (MKAA) Bandung bekerja sama dengan Museum Geologi, Layar Kita, Sahabat Museum Konperensi Asia Afrika (SMKAA), Pulasara Iket, dan Jatinangorku.com menggelar Nonton Bareng dan Diskusi Film “Sang Perintis : Pahlawan Geologi Indonesia’’. Film bergenre dokumenter ini mengisahkan dua pahlawan geologi Indonesia, yakni Arie Frederik Lasut dan Soenoe Soemosoesastro.

Penonton mulai berdatangan jam 18 WIB. Tanpa menunggu lama, seratus kursi yang disediakan panitia langsung terisi penuh. Padahal, Bandung Sabtu malam tengah diguyur hujan deras. Namun, tidak menyurutkan semangat peserta untuk datang dan mengikuti diskusi. Hebatnya lagi, sebagian peserta baru pertama kali mengunjungi museum. Tampaknya publikasi yang dilakukan MKAA cukup berhasil.

Tepat jam 19 WIB, acara dibuka dengan penayangan video pidato Bung Tomo, pemimpin perjuangan arek-arek Surabaya melawan Inggris pada 10 Nopember 1945 silam. Dalam pidatonya, terasa sekali bahwa pidato Bung Tomo mampu menggelorakan semangat pejuang Indonesia di Surabaya. Karena semangat ini, Inggris gagal merebut Surabaya. Padahal, peralatan perang pejuang Indonesia lebih sederhana dibandingkan prajurit Inggris.

Satu hal yang menarik dari video ini, ternyata semangat Asia-Afrika sudah muncul kala itu. Buktinya, 300 tentara Inggris yang berasal dari Pakistan dan India membelot dari kesatuannya. Mereka lebih memilih untuk membantu perjuangan rakyat Indonesia.

Belum lepas keterpukauan hadirin dengan video Bung Tomo, panitia menyuguhkan film dokumenter bertajuk The Reflexion of The 1955 Asian-African Conference and Beyond. Sebelumnya, peserta diajak untuk mengheningkan cipta guna mendoakan para pahlawan bangsa yang telah gugur merebut dan mempertahankan kemerdekaan Indonesia.

Tampaknya, setiap acara MKAA tak lengkap tanpa lagu Emansipasi Asia-Afrika. Lagu tema (theme song) “Bandung, Ibu Kota Asia-Afrika” ini sedikit menghangatkan suasana Bandung yang diguyur hujan tanpa henti. Satu hal yang unik, lagu yang dilantunkan oleh Ras Muhammad ini bernuansa Reage, yang identik dengan hal informal dan muda. Tidak biasa memang untuk museum yang identik dengan hal formal dan klasik. Tetapi inilah yang membuat MKAA selalu ramai dengan kaum muda.

Kumandang lagu Emansipasi Asia-Afrika membuka pemutaran film dokumenter “Sang Perintis”. Film berdurasi 15 menit ini mengisahkan perjuangan 2 Geologis Indonesia pada era kemerdekaan Indonesia, yaitu: Arie Frederik Lasut dan Soenoe Soemosoesastro. Mereka adalah dua orang Geolog pertama Indonesia.

Cerita berawal dari kekurangan tenaga menengah di bidang geologi dan pertambangan di masa pemerintah kolonial Belanda. Para insinyur Belanda saat itu membutuhkan tenaga terlatih yang dapat membantunya di lapangan. Oleh karena itu, pemerintah Belanda membuka kursus untuk menjadi Asisten Geolog di Bandung. Dari keseluruhan peserta yang berwarga negara Belanda, hanya Arie dan Soenoe lah yang asli pribumi.

Di awal masa kemerdekaan, Arie dan Soenoe berjuang untuk menyelamatkan dokumen geologi dan tambang Indonesia. Mereka berusaha memindahkan dokumen-dokumen tersebut dari Bandung ke Tasikmalaya, lalu dibawa ke Magelang dan Yogyakarta. Kini dokumen-dokumen itu sudah kembali lagi ke Bandung. Arie sendiri gugur lantaran ditembak mati oleh tentara Belanda di dusun Pakem, Yogyakarta. Pada 20 Mei 1969, Arie Frederik Lasut dianugerahi gelar Pahlawan Kemerdekaan Nasional oleh Pemerintah Indonesia.

Ely Nugraha, plh MKAA Bandung (kanan) menyerahkan kenang-kenangan kepada keluarga Arie F Lasut usai pemutaran film dan diskusi. (Foto: Dok. MKAA Bandung)

Ely Nugraha, plh MKAA Bandung (kanan) menyerahkan kenang-kenangan kepada keluarga Arie F Lasut usai pemutaran film dan diskusi. (Foto: Dok. MKAA Bandung)

Tak hanya film, peserta juga disuguhi diskusi yang dimoderatori oleh Rany Dwi. Diskusi ini menghadirkan Tobing Jr. (Layar Kita), Julianty Martadinata (antropolog yang bekerja di Museum Geologi), dan Ir. Danny Z. Herman (Geologis). Menurut para Narasumber, dokumen Geologi yang diselamatkan oleh Arie dan Soenoe merupakan dokumen penting bagi Indonesia. Di dalamnya, terdapat data-data mengenai potensi yang terkandung di alam Indonesia. Penyelamatan dokumen tersebut dari Belanda membatasi pemerintah kolonial untuk mengeksplorasi sumber daya alam Indonesia. Apalagi, untuk kondisi saat itu, data-data geologi tersebut sangat langka dan didapatkan dengan cara yang sulit.

Film dokumenter Sang Perintis sendiri memakan waktu produksi selama satu tahun. Julianty mengaku kekurangan dokumentasi dan data-data sehingga menghambat pengerjaan film ini. Meskipun begitu, kerja keras pembuat film ini terbayar jua. Karena, film ini memiliki arti yang cukup besar bagi Indonesia. Seperti yang diutarakan oleh Tobing. Dia menilai bahwa film ini mengajarkan nilai dokumentasi bagi sebuah bangsa. Orang Indonesia sendiri lemah terhadap dokumentasi. Tak heran bila banyak dokumen-dokumen penting Bangsa Indonesia malah tersimpan di berbagai tempat dan museum di seluruh dunia.

Bagi Danny sendiri, film ini mengajak para Geologis Indonesia untuk menemukan sumber energi baru. Bagaimana pun, energi panas matahari, angin, dan panas bumi, belum dikembangkan secara optimal. Padahal Indonesia punya pontensi yang besar terkait energi ini.

Rangkaian acara diakhiri dengan tanya jawab dan makan malam bersama. Selain itu, acara ini juga menghadirkan foto-foto langka tentang Sanusi Hardjadinata. Sanusi sendiri adalah tokoh asal Jawa Barat yang pernah menjabat sebagai Gubernur Jawa Barat (1951 – 1957) dan Ketua Komite Lokal Konferensi Asia-Afrika 1955. Pameran foto ini sendiri berlangsung selama bulan Nopember 2012.

Satu lagi khazanah sisi pahlawan bangsa terungkap melalui acara ini. Film ini mengajarkan kita bahwa berjuang tidak harus melulu melalui pertempuran. Namun, penyelamatan dokumen sejarah dan data juga merupakan langkah perjuangan yang cukup penting artinya bagi sebuah bangsa. (YUPS)***

Categories: Kegiatan | Tags: , , , , , , , , , , | Tinggalkan komentar

Zhou En Lai, Sebuah Kenangan KAA-1955


Jackson Leung bersama foto ketika dirinya ditugasi mengalungkan bunga kepada Zhou En Lai ( Foto: jabar.tribunnews.com)

Jackson Leung bersama foto ketika dirinya ditugasi mengalungkan bunga kepada Zhou En Lai ( Foto: jabar.tribunnews.com)

Pagi-pagi buta, Leung Sze Mau muda dijemput oleh sebuah mobil sedan besar dini hari. Hari itu, bukanlah hari biasa bagi Leung, dan juga warga Bandung. Karena, pelajar SMP itu diamanahi sebuah tugas besar. Saking besarnya, dia sendiri tidak boleh bercerita kepada siapa pun perihal tugas ini. Bahkan, Leung sendiri tidak tahu tugas yang akan diembannya.

Mobil sedan besar itu menuju lapangan udara yang kini bernama Husein Sastranegara. Sepanjang jalan, Leung melihat ribuan masyarakat Bandung berkumpul di kedua sisinya. Hari itu, 16 April 1955, merupakan hari kedatangan delegasi dari negara-negara Asia-Afrika. Mereka akan menghadiri Konferensi Asia-Afrika di Gedung Merdeka, Bandung.

Leung pun tiba di Lapangan Udara Andir. Dia disuruh menunggu kedatangan sebuah rombongan delegasi. Leung sendiri belum diberitahukan apa tugasnya dan siapa yang dia tunggu. “Di bandara (Andir) saya menunggu lama sampai sore,” cerita Leung dengan Bahasa Indonesia beraksen Tionghoa. “Namun, delegasi yang ditunggu-tunggu tidak kunjung datang,” lanjutnya.

Keesokan harinya, Leung dibawa kembali kembali ke lapangan udara. Seperti hari sebelumnya, dia belum juga diberitahukan tugasnya dan orang yang ditunggunya. “Petugas hanya mewanti-wanti bahwa saya tidak boleh menerima barang apa pun dari siapa pun,” kenang Leung.

Seketika, pemilik nama Jackson Leung ini berpikir seperti seorang prajurit. Jiwa patriotnya muncul dan bergaung dalam hatinya. “Kalau ada penyerangan, saya akan berkorban,” tekadnya ketika itu.

Selang beberapa saat sebelum pesawat delegasi yang ditunggu tiba, Leung baru tahu bahwa tugasnya adalah mengalungkan bunga kepada ketua delegasi China, Zhou En Lai. Zhou adalah Perdana Menteri China ketika itu. Lantaran negaranya merupakan musuh Amerika, membuat Zhou selalu menjadi target pembunuhan intelijen barat.

Seminggu sebelumnya, 11 April 1955, sebuah insiden menimpa sebuah pesawat India berjuluk Kashmir Princess. Pesawat itu jatuh di kepulauan Natuna. Hasil penyelidikan membuktikan Kashmir Princess disabotase. Dalam peristiwa tersebut, 11 staf delegasi RRC dan 2 wartawan tewas. Sedianya pesawat tersebut akan membawa Zhou En Lai ke Indonesia. Beruntung, pada detik-detik terakhir, Zhou memutuskan untuk menunda keberangkatannya.

Tak berapa lama, pesawat Zhou tiba. Leung disuruh segera berlari mendekati Perdana Menteri Indonesia Ali Sastroamidjojo yang tengah berjalan cepat menuju Zhou En Lai. Zhou dan Ali bersalaman dan berpelukan. “Mereka saling menyapa dengan semangat,” cerita Leung.

Tangan kiri Ali kemudian menginstruksikan Leung untuk mendekat sembari tangan kanannya menunjuk ke Perdana Menteri China pertama itu. Leung segera mengalungkan bunga kepada Zhou. “Ni hao,” sapa Leung kepada Zhao.

Leung ingat sekali paras wajah Zhou ketika itu. Telapak tangannya lembut, berwarna putih kemerahan. Kedua orang besar tersebut mengapit Leung muda. “Pak Zhou memeluk saya dan ibu jarinya menekan kuat di dada saya. Sentuhannya begitu hangat,” kenang Leung dengan rasa bangga dan haru. Saking hangat dan kuatnya, Leung masih bisa merasakan aura kebesaran kedua perdana menteri tersebut, meskipun peristiwa itu sudah terjadi 57 tahun yang lalu.

Kini, diusianya ke-72 tahun, pengusaha di Hongkong ini berdiri menceritakan pengalamannya di ruang seluas lapangan sepak bola tersebut. Lebih dari 100 warga Bandung hadir dan terpesona mendengarkan cerita Leung. Decak kagum membahana di sebuah ruangan di Gedung Merdeka yang digunakan Konferensi Asia Afrika pada 18 – 24 April 1955 silam.***

Categories: Napak Tilas | Tinggalkan komentar

Memoar di Balik Pekik “Merdeka!”


Pembacaan teks proklamasi 17 Agustus 1945. (Foto: Blogspot.com)

Pembacaan teks proklamasi 17 Agustus 1945. (Foto: Blogspot.com)

Sejak kapan orang-orang Indonesia mengenal kata “Merdeka”? Sejak kapan mereka menyadari arti penting sebuah kemerdekaan? Sejak kapan pula bangsa Indonesia memiliki kesadaran berkebangsaan? Begitulah pertanyaan yang diutarakan oleh Hawe Setiawan di hadapan kawan-kawan Asia-Africa Reading Club (AARC) di Gedung Merdeka beberapa waktu silam.

Bagaimana pun, kemerdekaan bukanlah sosok yang begitu saja dapat dimengerti oleh rakyat Indonesia. Di Surabaya, pejuang kemerdekaan digambarkan sebagai sosok berambut panjang dengan pistol di kanan-kirinya dan bertindak seperti koboy. Kemerdekaan juga ditafsirkan sebagai bebas bertindak sesuka hati. Padahal, tetap saja ada aturan main yang berlaku dalam kemerdekaan.

Bahkan, ada sebuah anekdot yang cukup miris tentang makna kemerdekaan. Dikisahkan tentara NICA yang merupakan gabungan militer Inggris dan Belanda, tiba di sebuah kota. Di dekatnya ada seorang lelaki paruh baya yang tak sengaja berpapasan dengan konvoi. Tanpa pikir panjang, lelaki ini kemudian meneriakan kata “merdeka” lengkap dengan kepalan tangan di atas kepalanya. Tanpa pikir panjang pula dan tanpa basa-basi, tentara NICA langsung menembaknya hingga tewas. Ternyata, sang lelaki tidak paham makna kemerdekaan. Di benaknya, kata “merdeka” dan kepalan tangan di atas kepala, dimaknainya sebagai kata “halo”, sebuah ungkapan untuk menyapa.

Pada era 1920-an, kesadaran akan jati diri bangsa terjajah dan gagasan tentang Indonesia muncul di kalangan para elite. Mereka adalah sekelompok mahasiswa Indonesia yang sedang berkuliah di Belanda. Beberapa di antaranya adalah Moh. Hatta dan Ali Sastroamidjojo. Guna menyatukan seluruh mahasiswa yang berasal dari Hindia Belanda, mereka membuat sebuah kelompok belajar bernama Perhimpunan Indonesia. “Namun bukan study club (kelompok belajar) yang tujuannya happy-happy,” terang Hawe.

Kelompok belajar ini memiliki visi dan program untuk mewujudkan Indonesia dan memerdekakan bangsanya dari penjajahan kolonial Belanda. Gagasan-gagasan ini secara rutin dituangkan melalui tulisan kemudian dicetak dalam brosur, buku, pamflet, majalah, buletin, dan media cetak lainnya. Gagasan-gagasan ini kemudian menyebar ke dalam jaringan mereka hingga ke Nusantara.

Salah satu orang yang meneruskan gagasan ini adalah Soekarno. “Soekarno ini orangnya multitalent,” ungkap dosen Universitas Pasundan ini. Soekarno memiliki kemampuan membumikan gagasan-gagasan Hatta, sehingga dapat diterima oleh masyarakat Indonesia secara luas.

Di sisi lain, masyarakat Indonesia mulai banyak yang bersekolah dan mengenal huruf. Mereka juga sudah mulai membudayakan membaca. Sehingga dengan mudahnya gagasan tentang kemerdekaan diterima oleh masyarakat Indonesia. Pada akhirnya, banyak orang yang mulai memiliki kesadaran bahwa mereka adalah orang Indonesia. Lebih jauh lagi, membuat mereka sadar akan makna kemerdekaan.

“Kebangsaan berpadu dengan kebudayaan. Di sinilah titik kesimpulannya,” tandas Hawe. Lebih lanjut, kebangsaan dibentuk oleh mekanisme kebudayaan –dalam hal ini budaya membaca dan menulis.

Gagasan kebangsaan ini kemudian tersalurkan dalam berbagai mekanisme kehidupan yang lain. Mulai dari identitas pakaian berupa peci hingga gesekan biola WR Supratman dengan lagunya Indonesia Raya. Kemudian lagu ini dinyanyikan setiap orang di jalanan. “Itulah proses terbentuknya Indonesia. Ada tindakan-tindakan kecil kebudayaan yang membangun Indonesia,” simpul budayawan Bandung ini. “Mulai dari sastra yang adiluhung sampai lagu yang populer, memiliki kontribusi besar terhadap (berdirinya) Indonesia,” tandasnya.

Identitas Kebangsaan

Foto: blogspot.com

Foto: blogspot.com

Proses kemerdekaan dan kesadaran berbangsa Indonesia adalah sebuah pencapaian yang luhur. Karena sebelum merdeka, masyarakat tidak pernah merasa memiliki kesatuan sebagai bangsa Indonesia. Mereka lebih banyak merujuk kepada kerajaan-kerajaan pra-Indonesia, dan mengagung-agungkannya sebagai identitas primordialnya.

Di masyarakat internasional, kebangsaan menjadi referensi utama berhubungan antar negara. Umumnya, orang di dunia tidak akan peduli agama, ras, atau suku, tetapi identitas kebangsaannya. Contohnya saja ketika masuk sebuah negara. Pertama kali yang dipedulikan adalah identitas kebangsaannya.

Identitas kebangsaan merupakan sebuah gagasan yang digagas oleh Benedict Anderson dalam buku Imagine Community. Di situ, Anderson mendefinisikan Nation sebagai Imagine Political Community. Imagine berarti digagas, dipikirkan, dan juga dibayangkan. Bangsa Indonesia merupakan hasil kreativitas abad 20 yang digagas, dipikirkan, dan dibayangkan oleh Perhimpunan Indonesia. Kata kuncinya adalam imajinasi kolektif, yang juga berarti imajinasi komunitas.

“Mengapa kebangsaan disebut ‘something imagine‘?” tanya Hawe kembali. Karena kita tidak mungkin mengenal seluruh orang-orang Indonesia. Sehingga yang menjadi pegangannya adalah imajinasi tentang identitas bernama Indonesia. Misalnya saja ketika bertemu sesama orang Indonesia di luar negeri, kita akan menyebutnya sebagai “my fellow of Indonesia“. “Meskipun bila bertemu di dalam negeri justru akan hare-hare (acuh tak acuh),” canda Hawe.

Dalam hal ini, keindonesiaan adalah sesuatu yang dibayangkan, karena tidak ada pegangan yang bisa diraba. Sedangkan makna komunitas, merupakan ikatan bersama. Dalam hal ini, semacam kelompok yang memiliki banyak anggota.

Lalu, bila bangsa didefinisikan sebagai komunitas yang diimajinasikan (imagine community), lalu apa yang mungkin terealisasi? Lebih lanjut, Hawe menerangkan bahwa imajinasi kolektif direalisasikan antara lain melalui bahasa, terutama bahasa tulis yang kodenya dimengerti oleh sesama.

Kegiatan membaca dan menulis barangkali merupakan hal yang sangat penting dan paling memungkinkan untuk merealisasikan imajinasi. Contohnya saja dengan Ali Sastroamidjojo. Dia boleh dikubur, tetapi tulisannya masih bisa dibaca. Tulisan Ali yang dibaca ini merupakan imajinasi kolektif.

Semua komunitas harus memiliki imajinasi kolektif ini. Harus ada bahasa bersama yang mampu menghubungkan orang, semacam rumusan kehidupan bersama. Karena merupakan imajinasi, maka rumusan ini bisa didefinisikan terus menerus. Dalam hal ini, Hawe menandaskan bahwa “Kitalah yang menentukan masing-masing anggota kehidupannya.”

Memelihara Kebudayaan

Kebudayaan sendiri sebenarnya berbicara tentang pola. Bagaimana pun, kehidupan manusia sebenarnya tanpa pola, kacau, dan tidak terencana. Kekacauan ini seolah-olah tidak bisa dibaca atau chaos of insident.

Meskipun begitu, manusia mencoba menata kekacauan ini dengan mencari pola-pola. Hal ini merupakan bagian kita untuk meraih makna dalam kehidupan. Manusia yang tidak bisa membaca peristiwa atau pola ini, akan menjadi tidak waras. Mereka yang tidak waras, tidak akan bisa mempersepsi keadaan.

Dalam tatanan tata negara, manusia bisa dengan mudah merubahnya. Syaratnya adalah kesepakatan bersama. Namun, tidak mudah untuk merubah kebudayaan. Karena hal ini membutuhkan waktu yang lama. Bagaimana pun, budaya adalah hal yang sulit berubah.

Foto: blogspot.com

Foto: blogspot.com

Contohnya saja identitas primordial bangsa Indonesia. Meskipun sudah 67 tahun merdeka, tapi masih banyak orang berpikiran seperti orang-orang pra-Indonesia. Hal ini salah satunya dapat dilihat dalam pandangan bangsa Indonesia terhadap presiden. Pemimpin negara dipandang sebagai raja atau sultan. Sehingga istilah yang digunakan pun masih perintah atau pemerintah. Secara harfiah bermakna orang yang memerintah, bukan melayani rakyat. Sehingga jangan heran pemerintah tidak melayani rakyat, karena dia memerintah.

Dalam hal ini, bangsa Indonesia ingin egaliterian di satu pihak. Namun, di pihak lain, secara kultural masih belum berubah. Akhirnya yang terwujud adalah sinkretisme atau campuran yang beraneka ragam. Contohnya terdapat dalam konsep Nasional, Agama, Komunis (Nasakom). Konsep ini menurut Hawe merupakan bentuk sinkretisme politik di era Soekarno guna meramu keragaman di Indonesia.

Meskipun begitu, inilah kekuatan Indonesia, ada dalam hal meramu. Tak heran bila Hawe menilainya sebagai bangsa yang sulit didefinisikan. “Kacau sekaligus indah,” cetusnya.

Secara kebudayaan, hal ini merupakan kelebihan bangsa Indonesia. Bangsa ini mampu memelihara kreativitas kolektif yang memungkinkan terwujudnya pendidikan ke arah pembukaan wawasan baru.

Kuncinya adalah pendidikan humaniora dan kebahasaan. Di kemudian hari, hal ini bisa membantu memelihara Indonesia. Karena pendidikan memiliki peran penting, terutama memberikan kesadaran akan kekayaan perspektif. Sehingga orang menjadi peka terhadap kehidupan dan mampu mengenali serta menyusun pola kehidupannya.***

Categories: Kegiatan, Napak Tilas | Tinggalkan komentar

Jejak Inspirasi Semangat Bandung Ali Sastroamidjojo


Buku "Tonggak-Tonggak di Perjalananku" edisi awal. Museum Konferensi Asia-Afrika (MKAA) Bandung pada 2012 ini menerbitkan kembali buku ini. (Foto: Blogspot.com)

Buku “Tonggak-Tonggak di Perjalananku” edisi awal. Museum Konferensi Asia-Afrika (MKAA) Bandung pada 2012 ini menerbitkan kembali buku ini. (Foto: Blogspot.com)

Sinar matahari sore menyelinap genit di antara awan mendung yang bergelayutan di atas Bandung. Namun, air hujan belum juga mau beranjak turun. Bukan hanya sore ini saja. Sudah 4 pekan sore, air belum juga berkenan membasahi bumi.

Seperti sore-sore di musim kemarau yang kering pada umumnya, sore ini pun Kota Bandung terbuat dari antrian kendaraan yang mengular di setiap sudut jalanan. Memadati udara kota dataran tinggi itu dengan debu polusi dari knalpot mobil dan motor.

Di sini, di sudut Gedung Merdeka, sebuah ruangan berjuluk Audio-Visual dan berukuran 3/4 lapangan bulu tangkis, padat dengan manusia. Ada sekitar 60 kursi yang disusun berbentuk huruf “U” berlapis tiga. Perlahan tapi pasti, setiap kursi mulai terisi manusia.

Semakin petang, jumlah manusia semakin bertambah. Saking padatnya, beberapa orang memilih berlalu lalang di lorong depan ruangan. Mengusir suntuk mungkin. Namun, sebagian besar orang-orang di dalam ruangan memilih untuk bertahan.

Setiap kepala tertunduk khusyu. Di tangan sebagian mereka, terpatri sebuah buku setebal 666 halaman. Semuanya sepakat membuka halaman 640. Salah seorang di antaranya, membaca kata demi kata dengan lantang. Tak selalu lantang memang, tetapi dia berusaha agar suaranya terdengar hingga ke seantero ruangan. Sedangkan hadirin lainnya menyimak dengan khusyu.

Kekhusyuan ini bukanlah baru pertama kali dilakukan oleh sebagian dari mereka. Sejak Februari lalu, sekelompok pemuda mulai menapaki huruf demi huruf biografi Ali Sastroamidjojo ini. Mereka menamai dirinya Asia-Africa Reading Club (AARC). Sedangkan buku yang tengah mereka baca berjudul Tonggak-Tonggak di Perjalananku yang ditulis sendiri oleh Ali Sastroamidjojo.

Setiap Rabu, sekitar 10 hingga 15 orang rutin berkumpul dan membaca bersama-sama. Mereka menyebutnya sebagai “tadarusan”. Aktivitas ini memang lumrah dilakukan untuk membaca Alquran secara berkelompok. Namun, masih jarang sekelompok orang mempraktikannya untuk membaca buku beraksara latin dengan Bahasa Indonesia.

Halaman demi halaman mereka santap setiap pekannya. Tak cukup sampai di situ, mereka pun menghadirkan pengkaji sejarah dan budaya ke dalam aktivitas pekanan AARC. Beberapa yang pernah menorehkan namanya dalam aktivitas tadarusan, antara lain: Acep Iwan Saidi, Alfathri Adlin, Dina Y Sulaeman, dan Hawe Setiawan. Mereka menorehkan kesan mendalam di kenangan dan pikiran para punggawa AARC.

***

Plh Museum Konferensi Asia-Afrika (MKAA) Elly Nugraha (tengah) menerima tanda terima kasih dari keluarga besar Ali Sastroamidjojo yang diwakili oleh Tarida Sastroamidjojo (kiri). (Foto: Yudha PS)

Plh Museum Konferensi Asia-Afrika (MKAA) Elly Nugraha (tengah) menerima tanda terima kasih dari keluarga besar Ali Sastroamidjojo yang diwakili oleh Tarida Sastroamidjojo (kiri). (Foto: Yudha PS)

Adzan Maghrib sayup-sayup berkumandang di masjid-masjid sekitar jalan Braga dan jalan Asia-Afrika Bandung. Aktivitas hiruk-pikuk kehidupan Bandung lambat-laun mereda, seiring petang yang mulai berganti malam. Namun tidak di Ruang Audio-Visual Gedung Merdeka.

Di ruangan yang semakin sesak, keriuhan hadirin semakin bergema. Kini, lembaran yang terbuka di buku biografi Ali Sastroamidjojo menunjukan halaman 656. Tinggal 3 paragraf lagi, dan usailah sudah perjuangan 8 bulan melahap sebuah buku secara berjamaah. Sedangkan 10 halaman lagi sisanya, hanyalah daftar indeks dan catatan pelengkap buku lainnya. Tidak masuk hitungan untuk dibaca juga.

Uniknya, dia yang sedang membaca bentuk fisiknya jelas sangat berbeda dengan hadirin kebanyakan. Hitam dan berambut pendek-keriting. Bahasa Indonesianya pun sangat terbata-bata. Wajar saja, pembacanya adalah seorang Uganda yang mulai bisa Bahasa Indonesia, meskipun masih sedikit. Meskipun begitu, keadaan tersebut tidak menyurutkannya untuk menyelesaikan satu paragraf teks dari buku Tonggak-Tonggak di Perjalananku.

Musa Muwaga namanya. Modal membaca napak tilas Ali Sastroamidjojo hanya hasil dari interaksinya selama berkuliah di Universitas Padjadjaran Bandung. Sisanya, dia percayakan sepenuhnya pada teks-teks latin berbahasa Indonesia, yang berusaha ia baca. Warga Asia-Afrika lainnya yang kebetulan hadir di acara ini adalah Yagura Roichi, seorang warga Jepang yang tengah melakukan penelitian di Museum Konferensi Asia-Afrika. Dia pun turut membaca bait-bait kenangan Ali Sastroamidjojo dengan sangat terbata-bata. Tekad keduanya untuk membaca pun mampu menuai pujian dan tepuk tangan hadirin lainnya.

***

Tepat jam 18:05 WIB, kalimat terakhir dalam paragraf terakhir buku biografi Ali Sastroamidjojo pun usai dikumandangkan. Ritual tadarusan ini ditutup oleh pemaparan riwayat singkat Ali Sastroamidjojo yang dibacakan oleh kang Desmond Satria Andrian, sosok tinggi-besar yang sampai saat ini selalu menginsipirasi Sahabat MKAA untuk berkegiatan di Gedung Merdeka.

Ali Sastroamidjojo sendiri merupakan salah satu Bapak Bangsa Indonesia. Kiprahnya untuk memperjuangkan dan mempertahankan kemerdekaan Indonesia sangat besar. Di masa-masa awal pemerintahan Indonesia berdiri, beliau ditunjuk sebagai menteri pendidikan dan kebudayaan. Dia juga duta besar pertama Indonesia untuk Amerika yang mengawali membuka perwakilan Indonesia di negeri Paman Sam.

Salah satu puncak karir Ali Sastroamidjojo yang paling diingat oleh banyak orang adalah jabatannya sebagai Perdana Menteri Republik Indonesia. Di titik ini, “Ali merupakan sosok pejuang diplomasi, dengan jiwa internasionalisasi yang konsisten, khususnya konsisten terhadap semangat Bandung,” nilai Elly Nugraha, plh Kepala Museum Konferensi Asia-Afrika Bandung, dalam sambutan pada syukuran Khataman Tadarusan buku Tonggak-Tonggak di Perjalananku.

Elly berharap, melalui bukunya ini, sosok Ali bisa masuk ke relung-relung pemuda yang merupakan generasi penerus Bangsa.

Plh Museum Konferensi Asia-Afrika (MKAA) Elly Nugraha tengah memotong tumpeng tanda berakhirnya tadarusan buku biografi Ali Sastroamidjojo. (Foto: Yudha PS)

Plh Museum Konferensi Asia-Afrika (MKAA) Elly Nugraha tengah memotong tumpeng tanda berakhirnya tadarusan buku biografi Ali Sastroamidjojo. (Foto: Yudha PS)

Dalam kesempatan ini, hadir juga Tarida Sastroamidjojo, cucu dari Ali Sastroamidjojo yang hadir mewakili keluarga besar Ali Sastroamidjojo. Tarida menghaturkan penghargaan kepada pengelola MKAA. “Saya merasa haru dan bangga bahwa pihak Museum Konferensi Asia-Afrika Bandung memberikan perhatian pada karya beliau. Bahkan mencetak dan menerbitkannya, termasuk menyebarkan (buku Ali Sastroamidjojo) ke khalayak luas,” ungkapnya di depan hadirin dengan penuh haru. “Semoga isi pesan beliau bisa membuka cakrawala pengetahuan bagi generasi muda,” tutupnya.

***

Ali Sastroamidjojo adalah inspirasi. Itulah kesimpulan dari peserta Khataman Tadarusan Tonggak-Tonggak di Perjalananku. Seperti yang dikemukakan oleh Norma, anggota Asia-Africa Reading Club (AARC). Selama membaca buku biografi Ali Sastroamidjojo, ibu satu anak ini mengaku mendapatkan banyak ide untuk menggelorakan semangat “Bandung Ibu Kota Asia-Afrika”.

Contohnya saja, Norma terinspirasi untuk menggelar lomba baca dan malam keakraban pemuda Asia-Afrika. Meskipun banyak kendala, tetapi Norma yakin semangat Bandung bisa mendobrak segala keterbatasan yang ia dan teman-temannya miliki. “Seperti (pemerintah) Indonesia dengan keterbatasan ekonominya mampu mewujudkan KAA 1955,” tandasnya.

Semangat senada dirasakan oleh Aryo, anggota AARC. Gitaris serta desainer asal Bandung ini terinspirasi untuk menggaungkan Bandung Ibu Kota Asia-Afrika ke seantero Bandung. Untuk mengejawantahkan semangatnya ini, Aryo memulainya dengan merancang kaos dengan pesan “Bandung Ibu Kota Asia-Afrika”.

***

Karya terakhir Ali Sastroamidjojo ini mampu menghadirkan tokoh-tokoh sejarah dengan sangat manusiawi. Itulah penilaian Desmond, dalam pengantar Khataman Tadarusan buku Tonggak-Tonggak di Perjalananku. “Karena ditulis dalam bahasa tutur yang baik,” ungkapnya. Alumnus Sastra Perancis UNPAD ini juga mengungkapkan bahwa Ali merupakan sosok yang memiliki pandangan Indonesianisme dan Panasianisme yang kuat.

Peran Ali Sastroamidjojo dalam percaturan diplomasi Indonesia tampak sekali dalam drama Konferensi Asia-Afrika (KAA) 1955. Ali sebagai sutradara besar konferensi, berhasil meyakinkan 4 perdana menteri lainnya pada konferensi Kolombo untuk menyelenggarakan KAA 1955. “Tanpa Colombo Plan, tidak ada KAA,” tandas Desmond.

Kebesaran Ali semakin tampak ketika KAA 1955 terselenggara di Bandung. Kecanggihan diplomasinya mampu mengakomodir berbagai latar belakang ideologi untuk bersatu dalam forum internasional kulit berwarna pertama di dunia itu.

Hal ini salah satunya tampak pada hari kelima penyelenggaraan KAA 1955. Pada pertemuan politik yang dihadiri seluruh perdana menteri, Chou En Lai, Perdana Menteri China, berkonflik dengan John Kotawala, Perdana Menteri Chevlon. Hampir-hampir, KAA 1955 gagal. Namun, berkat campur tangan Ali, konflik tersebut mampu diredam dan KAA 1955 mampu menghasilkan Dasa Sila Bandung di malam penutupannya.

Sebagai penutup, Desmond menandaskan bahwa sisi internasionalisme Ali Sastroamidjojo tampak di halaman-halaman akhir biografinya. Ali masih sempat mendoakan Perserikatan Bangsa-Bangsa untuk lebih baik lagi. “Sesuatu (pemikiran) yang patut kita apresiasi tentunya,” tutup Desmond yang disambut tepuk-tangan dari hadirin.

Semoga, tepuk-tangan tanda terinspirasi untuk menggelorakan semangat Bandung, untuk sebuah Indonesia dan dunia yang lebih baik lagi.***

Categories: Kegiatan | Tags: , , , , , , , , , | Tinggalkan komentar

Create a free website or blog at WordPress.com. The Adventure Journal Theme.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 4.061 pengikut lainnya.